Selasa, 21 April 2015

The Journey : Kuala Lumpur-Malacca-S'pore-Batam [so late post] A Way between

Well,, seems like it's not the last one... 

Setelah balada Mesjid Malaka yang melelahkan namun juga menyenangkan, kali ini saya coba mengingat dan menuliskan apa yang kami alami selama perjalanan kami menuju Singapura.

Let's get it started
Berangkat sekitar pukul tujuh pagi waktu Malaka dari guest house menuju Malaka Sentral. Setelah gagal sarapan bakpaw karena kegosongan di microwave. #ngakakgulingguling
(ketauan g pernah pake microwave, bakpaw tuh dikukus bukan dipanggang,,, hehe,, the very stupid of me)
Akhirnya sarapan beberapa potong apel yang dibeli di Giant sepulang dari Mesjid Malaka sehari sebelumnya.
Satu keberuntungan ketika si empunya guest house berbaik hati memanggilkan taksi untuk kami dengan ongkos setengahnya. Kenapa?? emang dapat diskon?? bukan,, kami bayar setengah karena selain kami, ada satu orang bapak Japanesse yang juga hendak menuju Malaka Sentral. heuheu,,, patungan gitu maksudnya... [Efisiensi itu penting buat backpacker,,, :D]

Tiba di Malaka Sentral, dimulailah kegalauan. Entah bagaimana awalnya, kami ketinggalan jadwal keberangkatan dari operator bus 707 Inc. Express seperti yang direncanakan di itinerary. Perlu diketahui bahwa setiap operator bis memiliki tempat pemberhentian yang berbeda di Singapura. Alasan memilih operator itu karena pertimbangan dekat dengan lokasi guest house kami di Singapura. Tapi, karena melihat jadwal keberangkatan berikutnya yang terlalu siang, kami putuskan untuk menggunakan jasa operator lain.

Perjalanan Malaka - Singapura cukup lancar, dan sebagian besar kami habiskan dengan tidur. Selain memang untuk beristirahat, juga untuk menangkal dinginnya air-con (bahasa melayu-y AC) didalam bis yang duinging binggitz.
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, bis berhenti di sebuah bangunan modern. Awalnya bingung, kenapa bis nya berhenti. Mlanga mlongo, baca situasi, konsekuensi dari malunya bertanya. Padahal kan kata pepatah, malu bertanya sesat dijalan. Tapi pepatah itu tak mempan mengalahkan rasa enggan saya untuk bertanya. #huff

Ditengah kebingungan dan ke-tidakberani-an untuk bertanya, saya mencuri dengar dari seorang penumpang di bis kami yang terlihat seperti seorang guide, bahwa tempat ini adalah check point negara bagian Malaysia. Artinya, it's all about immigration things. Oooww... hehe,, jadi keingetan. Ternyata hasil browsing dan blog walking sebelum berangkat menguap entah kemana.

Oke. Turunlah kita dari bis, according to the guide kita ga perlu bawa barang-barang kita, karena nanti kita akan berangkat menggunakan bis yang sama. Ada untungnya juga kenal sama bahasa Inggris, meski masih pasif.. hehe..
Memasuki check point -yang ternyata bernama- Bangunan Sultan Iskandar [BSI] menggunakan eskalator. Bangunannya cukup megah, memang sedikit kebingungan menentukan arah menuju gerbang pemeriksaan imigrasi, tapi tak terlalu rumit lah, karena rambu-rambu berbahasa Melayu masih mudah untuk dimengerti.
google


Ada satu kejadian menarik setelah melewati gerbang keimigrasian.
Ketika itu kami dihadapkan pada dua pilihan pelik [jreng jreng jreng #lebaii]. Ada dua eskalator turun disana. Kami bingung harus menggunakan eskalator kiri atau kanan. Kami juga tidak tahu where the escalator will lead us to [lebai bombai]. Dan diputuskanlah untuk menggunakan eskalator kanan, simpel aja sih, karena kalo kanan itu selalu lebih baik, in my opinion.

Tapi ketika tiba di lantai bawah, ternyata kami tiba di tempat parkir.. heuheu.. dan sepi banget.
Karena tak nampak bis yang tadi kami tumpangi, kami pun mencoba bertanya pada sesiapa yang kami temui. Kebetulan ada bapak polisi muda yang kece lewat, kami mencoba bertanya. Saya tanya pake bahasa Inggris, karena khawatir salah milih kata kalo pake bahasa Melayu. 

Si Bapak Polisi kece ini malah geleng-geleng kepala, sambil nunjuk-nunjuk arah.
Kalo diterjemah mungkin,, anda bisa coba pergi ke arah sana.. heuheu,, begitu kira kira.
Tak ada pilihan lain, kami ikuti instruksi si Bapak, dan ternyata bener dong, diseberang sana ada bis yang kami tumpangi tadi, dan kami harus menyebrang karena berseberangan arah.

Ternyata, eskalator turun itu menentukan kita berada di sisi sebelah kanan atau kiri dari tempat parkir. Heuheu,, dan ternyata juga bis yang kami tumpangi memang parkir di sebelah kiri... #parah
Jadi,, sebelah kanan selalu lebih baik,, it doesn't work all the time,, it depends on what it's all about.... #lessontolearn

Setelah proses imigrasi di Malaysia selesai, kami berangkat menuju check point Singapura => Woodland. Prosesnya lumayan lancar. Berbeda ketika di BSI, kami turun dari bis dengan membawa barang-barang, karena belum tentu kami menggunakan bis yang sama ketika beres dengan urusan imigrasi. Singkat cerita, bereslah urusan imigrasi [padahal memang tak tersisa detil cerita mengenai imigrasi Woodland di memori ini], dan kami pun menuju tempat parkir, mencari bis dari operator yang sama.

hhmm,,, inginnya sih nerusin ceritanya,, tapi sepertinya akan sangat menyita halaman,, 
jadi,, saya buatkan satu tulisan terakhir saja mengenai cerita kami di Singapura. :D

Kamis, 12 Maret 2015

Another Journey [a spiritual one],, Bismillah...

Rutinitas ternyata bisa membuat mati rasa. Karena ia ternyata mengundang kepenatan.
Ahh,, bahagianya bagi sesiapa yang menjalani rutinitasnya bagai menjalani mimpi.
Sungguh cemburu!

Tepat tujuh tahun, bergelut dengan hal yang sama. Terkadang memang ada permasalahan, tapi bukanlah sebuah variasi yang menyenangkan. Interaksi antar personil yang juga sangat menguras energi, semakin menambah penat. 

Pernah satu kali, ada niatan untuk mengambil rehat panjang. Tapi, sebagai seorang yang senantiasa bermain aman (istilah halus untuk coward; hehe..) kebingungan mencari alasan kuat untuk itu. Alhasil tak pernah rehat panjang sejak pertama kali berkantor dan berstatus pegawai. Sebagai akibatnya, kepenatan ini tak pernah mau menghilang. Seperti sebuah gelas yang terus menerus dituangkan air kedalamnya, lama kelamaan air meluber keluar dari gelas karena tak tertampung.

Mulanya sih merasa yakin bisa mengatasi semuanya. Mengenai rutinitas harian, bulanan bahkan ritual tahunan, juga masalah rekan kerja semuanya masih bisa terkendali. Tapi, ketidakikhlasan dalam berinteraksi dan ber-rutinitas, terlalu banyak berharap pada makhluq yang membuat jiwa ini kian kerdil.

Sang gelas tak pernah bisa men-transformasi-kan dirinya menjadi wadah yang lebih besar untuk menampung air lebih banyak. Ia setia dan rela dengan pikirannya sebagai gelas, terlalu fokus pada air ia lupa bahwa dirinya adalah baskom atau mungkin ember.

Keluh kesah yang membuat kita tak bisa berkembang. Fokus pada pengembangan diri, itu yang seharusnya terjadi, bukan fokus pada masalah yang membuat kita merasa kerdil.

Pernah terlintas ide untuk pergi umroh, sebagai dispensasi rehat panjang yang saya perlukan. Tapi, merasa belum cukup bekal untuk pergi kesana. Karena yang saya tahu, selain harus siap dana juga harus mempersiapkan mental, dan tentunya diperlukan keikhlasan dan lurusnya niat. Bimbang, GALAU, pergi atau tidak. Mencoba mentafsir setiap pertanda, mencari jawab dari kebingungan. Akhirnya, memantapkan hati untuk pergi. 

Sempat mundur lagi, melihat pergerakan dollar yang semakin menggila. Karena jujur, satu yang menjadi ketakutan adalah masalah dana. Tapi alhamdulillah, bulan ini Allah memberi saya bonus, dan itu menjadi penguat niat untuk booking seat di travel ini

Ya.. meskipun belum tentu pergi, setidaknya one step closer untuk pergi umroh. Semoga Allah ridho. Bismillah. 

taken from google

Senin, 02 Maret 2015

The Journey : Kuala Lumpur-Malacca-S'pore-Batam [so late post] Malacca

Malacca atau Melaka atau juga Malaka, merupakan ibukota Negara Bagian Malaka-Malaysia. Sebuah kota yang dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2008. Kedatangan kami ke kota ini yang terlalu larut menyebabkan tak banyak yang bisa kami lakukan selain langsung menuju guest house kami. Tapi fajar pagi di kota ini sungguh cantik, terlebih dilihat dari teras lantai dua guest house kami yang berada di tepian sungai Malaka.
fajar hari pertama @guest house

Karena wilayahnya yang tidak terlalu luas, sepertinya melakukan eksplorasi Malaka dalam satu haripun cukup. Hanya saja, waktu itu kami terlalu bersemangat mencari Mesjid Malaka, yang ternyata cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu yang kami punya memang tersita untuk mencari dan bertanya arah ke mesjid tersebut. Hampir seharian kami mencari Mesjid Malaka dengan berjalan kaki. Mungkin lebih dari 20 KM kami berjalan kaki [asumsi ini diambil setelah melihat rambu bertuliskan 20KM di jembatan-arah jalan menuju Mesjid Malaka], dimulai dari guest house kami di kawasan pecinan Jalan Kampung Pantai, Jonker, sampai ke Mesjid Malaka yang letaknya jauh di bibir pantai Selat Malaka. Sungguh perjalanan yang luar biasa. Dengan kondisi sarapan seadanya, kami sempet ragu dengan arah yang tengah kami tempuh. Takut kalau saja perjalanan sejauh ini berujung pada kekecewaan dengan tidak menemukan tempat yang dimaksud. 

Menyusuri proyek pengembangan di kanan kiri jalan menuju Mesjid, membuat semangat kami semakin menyusut, seperti balok es yang terlimpahi sinar matahari siang hari, seperti itulah keadaan kami. Tapi apapun yang terjadi, tak ada piilihan lain kecuali kami tetap menyusuri jalan setapak yang sepi, hanya ada orang-orang yang tengah memotong rumput disepanjang bibir pantai -yang kami ragu itukah Selat Malaka-. Kami meneruskan berjalan kaki, berharap agar pantai ini benar-benar akan mengantarkan kami ke Mesjid Malaka. 

Alhamdulillah -segala puji hanya milik Allah- ketakutan kami tak terbukti, sebaliknya keteguhan kami ternyata membuahkan hasil. di ujung perjalanan kami melihat bangunan kubah mesjid. Ternyata memang itu mesjid yang kami cari. Posisinya memang di bibir selat, area depan mesjid dipenuhi bangunan entah ruko atau apartemen yang berjejer seragam sama tinggi dengan cat warna warni. Sepertinya tengah dilakukan pengembangan besar-besaran di kawasan tersebut, terlihat dari gambar besar yang menutupi proyek tersebut. 

front side

left side


Beristirahat di gazebo kecil di halaman mesjid sambil menikmati angin pantai yang semilir, ditemani sisa minuman dan makanan ringan dari perjalanan sebelumnya, membuat semua kelelahan menjadi hilang, tergantikan oleh rasa damai. Memang betul bahwasanya rumah Allah akan selalu menghadirkan kedamaian bagi sesiapa yang mencari. Tak cuma kedamaian, makanan pun Allah sediakan bagi kami yang musafir.. hehe... Alhamdulillah,, berkah hari jumat di Mesjid Malaka, kami kebagian jatah makan siang. Sebungkus bihun goreng plus telor ceplok menjadi penyambung hidup kami yang kelelahan dan kelaparan [lebay dot com] :D

Perjalanan melelahkan mencari mesjid Malaka, tak lantas membuat kami lupa akan kegembiraan yang menyapa lebih dulu ketika mengunjungi icon icon Situs Warisan Dunia-Malaka :


Christ Church Melaka

Kincir Air Malaka

Museum Maritim Malaka
dan terakhir adalah Jonker Night Market, di sepanjang Jonker Street-Malaka. Tak asing lagi, kalau soal pasar malam, pasti yang mendominasi adalah kaumnya Jet Lee, hehe... 




Selasa, 17 Februari 2015

Bulan Terbelah di Langit Amerika - sebuah resensi pribadi -

Seminggu yang lalu saya selesai membaca buku terbaru Mba Hanum Rais, judulnya Bulan Terbelah di Langit Amerika yang katanya juga akan segera difilmkan tahun ini. Karena tersemangati film islami "Assalmualaikum Beijing"-nya Mba Asma Nadia, saya mulai melirik dan merunut film film islami yang bekualitas lainnya. Dan teringat film 99 Cahaya di Langit Eropa -saya ga sempet nonton di bioskop. Untuk menebus perasaan bersalah karena kurang mendukung film islami tersebut, saya putuskan untuk menikmati karya Mba Hanum dengan membeli semua buku-buku beliau. Ya,, terkecuali buku tentang biografi yang beliau tulis.

Berkisah tentang islamophobia di Amerika Serikat pasca 9/11 (nine eleven) atau disebut juga black tuesday. Petualangan Hanum Rangga ke Amerika, diawali dari permintaan insane sang pemilik modal dari media tempat ia bekerja. Mendasarkan pada oplah media gratisan di Wina itu, Hanum diminta atasannya untuk membuat satu artikel superb. Hanum disodori satu tema atau judul artikel yang memicu perang batin baginya, "Would the world be better without Islam"

Tentu saja semua orang yang mengaku muslim akan marah ketika disuguhi hipotesa itu. Begitupun Hanum, dan ia menolaknya untuk pertama kali. Namun nalurinya kembali tersadarkan, ketika Gertrud -sang atasan- mengatakan bahwa jika bukan ia yang menuliskannya, maka kemungkinan besar hipotesa ini akan terjawab dengan mudahnya. Dengan mencoba meredakan emosi akhirnya Hanum bersedia untuk menuliskannya.

Mulai dari sini, meluncurlah semua penggambaran penulis tentang Amerika yang berkaitan dengan eksistensi Islam disana. Tentang sejarah penduduk asli Amerika Serikat yang dinamai Melungeon, dan keterikatannya dengan para pelancong muslim dari Spanyol, tentang nukilan Al qur'an yang tertera di Instansi Pengadilan di sana, juga tentang Asmaul Husna yang menjiwai isi deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat. Meskipun di akhir buku, penulis mengatakan bahwa beberapa peristiwa masih bersifat debatable, tak mengurangi semangat penulis untuk membawa pembaca pada petualangan menyingkap eksistensi islam di sana. 

Ya... karena masih bersifat debatable (tentu tidak semuanya), mungkin sekali ada yang merasa kurang puas atau bahkan kecewa, namun cobalah berpikir dari sisi yang berbeda. Seperti Julia Collinsworth yang meminta Hanum untuk tak marah ketika tahu salah satu patung yang berdiri di Supreme Court itu dimaksudkan adalah Nabi Muhammad SAW.


“Apa? Wajah Nabi Muhammad junjunganku terpahat di atas gedung ini? Apa-apaan ini! Penghinaan besar!” seruku pada Julia. Mataku hampir berair menatap patung di dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung Amerika Serikat, tempat para pengadil dan terhukum di titik puncak negeri ini.



“Jangan emosi. Tak bisakah kau berpikir lebih jauh, Hanum? Bahwa negeri ini telah dengan sadar mengakui Muhammad sebagai patron keadilannya. Bahwa Islam dan Amerika memiliki tautan sejarah panjang tentang arti perjuangan hidup dan keadilan bagi sesama.

“Akulah buktinya, Hanum.”


Supreme Court

Debatable berarti tidak ada yang salah dan benar. Semuanya masih mungkin. fifty fifty. Hanya masalah waktu yang akan menegaskan mana yang menjadi fakta dan mana yang bukan. Bisa jadi dan sangat mungkin, ada berjuta fakta tentang Islam yang menunggu untuk terungkap di negeri Paman Sam itu. 

Satu hal yang saya rasa terlalu "maksa" dalam buku ini adalah peristiwa koinsidental yang diciptakan. Hal ini juga disinggung penulis di akhir bukunya. Hanya untuk mengingatkan kita bahwa segala sesuatu itu mungkin. Bahwa ada tangan dengan ke-Maha-annya yang mampu menggerakkan apapun, suatu hal yang dianggap tak mungkin dapat sangat mudah terjadi, begitupun sebaliknya. Tapi entahlah,, it's just to common.. Tak terduga sama sekali. Mungkin karena secara pribadi ada pengharapan yang lebih dari itu. 

After all,, it's a good book. 3 stars out of 5. 
Perlu banyak lagi buku ber-genre seperti ini. Untuk menggugah dan mengingatkan bahwa menjadi muslim adalah sebuah kebanggaan. Be a true believers.

Beberapa potongan gambar saya ambil dari google untuk memvisualisasikan bangunan yang disebut di buku tersebut.

Thomas Jefferson Memorial -
founding father America yang mampu berbahasa Arab - 
Abraham Lincoln - Presiden Amerika yang diceritakan keturunan Melungeon

Smithsonian Museum

and last but not least,, the most i curious about is The Central Park of NYC
ternyata benar apa kata Hanum, lebih dari sekedar Central Park,, tapi HUTAN... 
you can find more info of this city park here 


Senin, 05 Januari 2015

The Journey : Kuala Lumpur-Malacca-S'pore-Batam [so late post] Kuala Lumpur

Awalnya postingan ini berisi beberapa foto perjalanan kami, tapi semakin dilihat dan dibuka lagi, merasa tak cocok dengan hati, merasa terlalu biasa dan ga banget. Maka dari itu saya putuskan menghapus beberapa foto-foto (yang kurang penting) tersebut dan menggantinya dengan ulasan mengenai perjalanannya. Ya,, mudah2an bukan sekedar nunjukin kalo kami pernah kesana dan kesini, tapi juga semoga mampu memberikan informasi berguna.

it was so late post,, mungkin karena tahun 2014 adalah tahun tersibuk saya untuk urusan pekerjaan. Jarang sekali ada waktu untuk membuka dan membuat postingan baru. (i know it's none of your business :D)

but,,, here we go..

Diawali dengan keterlambatan selama satu jam di Bandara Husein Sastranegara-Bandung, sampai akhirnya kami tiba di KLIA2 sekitar jam 13.00 waktu Malaysia. KLIA2 ini adalah bandara khusus untuk penerbangan berbiaya rendah, pengganti LCCT sebelumnya. (LCCT=Low Cost Carrier Terminal). Bangunannya cukup megah, dan berjarak [katanya] 2 kilometer dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

KLIA2 ini baru beroperasi bulan Mei 2014, bertepatan dengan jadwal keberangkatan kami. Awal cari-cari info kedatangan di Kuala Lumpur masih belum ngeh apa itu KLIA2, karena kamusnya masih LCCT aja, ternyata pas buka web resmi maskapai penerbangan milik Malaysia itu, ternyata LCCT digantikan KLIA2. Alhamdulillah dari situ relatif lancar merancang itinerary nya.

foto: tjiptadinata effendi
[found it on kompasiana]
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, tibalah di bagian imigrasi, berbeda ketika berjalan menuju gerbang keimigrasian yang sepi dan hanya nampak orang-orang tengah berjalan, penampakan setelah gerbang keimigrasian lumayan lebih menarik. Dan salah satu yang eyecatching adalah display toko dengan lampunya yang semarak, tapi setelah dilihat dari dekat, yang mereka jual adalah rokok dan alkohol heuheu...

after immigration gate : it's a store

Sempet nyasar waktu nyari exit di area bandara menuju KLIA Express, malah masuk antrian para pekerja. Alhasil ditanyai petugasnya, dan akhirnya ditunjki jalan yang lurus :D. 

Seperti tertulis di itinerary disini setibanya di KLIA2 kami menuju KL Sentral. Pusat terminal terintegrasi untuk moda transportasi LRT (Light Rail Train), bus dan taksi. Dari titik ini kita bisa mengakses semua bagian Malaysia. Karena rencana kami ke Malaka, jadi kami mengambil jurusan menuju Bandar Tasik Selatan. Terminal bus untuk semua jalur keberangkatan dan kedatangan dari Malaysia bagian selatan. Terminalnya bersih banget, dan relatif lebih lengang dari KL Sentral yang sebelum nya kami singgahi. Kalau dibandingkan Terminal Leuwi Panjang Bandung sih, kayanya jauh banget, hehe... 

Meskipun tujuan utama nya ke Malaka, ga afdhal kayanya kalo ga berfoto dulu di Menara Kembar Petronas. Ya.. mumpung ke Kuala Lumpur gitu. Jadi, dari KL Sentral kami menuju KLCC (Kuala Lumpur City Center) menggunakan LRT Kelana Jaya Line, dan tibalah di Suria KLCC, mall megah yang juga merupakan stasion kereta. 


Ternyata susah sekali dapat angle yang bagus, tapi lumayan lah,, heuheu,
Makan siang di Mall megah Suria KLCC, shalat dhuhur dan ashar di Mesjid Asy-Syakirin KLCC. 
Jujur, saya penasaran melihat bangunan mesjid ini, yang pertama kali saya baca ulasannya oleh dr. Tauhid Nur Azhar disebuah tabloid . Membaca penggambaran beliau tentang megahnya mesjid yang berada dijantung kota, seolah sebuah oase diteriknya dunia. Tapi apa yang saya dapatkan, tidak sesuai dengan bayangan. Entah salah mengambil arah menuju mesjid, entah terlalu bingung dengan banyaknya proyek pembangunan disekitar KLCC saat itu yang membuat saya kurang bisa menikmati bangunan megahnya. 
taken from wikimedia common
Tiba di Bandar Tasik Selatan, menuju Terminal Malaka Sentral dengan jadwal keberangkatan menjelang maghrib. Menghabiskan waktu kira-kira 3 jam untuk sampai di Malaka. Jam 22.00 waktu Malaka kami tiba di Malaka Sentral, karena terhitung terlalu larut malam maka hanya tersedia taksi untuk mencapai guest house kami. Dan Alhamdulillah sampai di guest house sekitar pukul 23.00 waktu Malaka. 

Dan rencana untuk meng-eksplor Malaka pun ter-realisasi. Bismillah...:)

Selasa, 19 Agustus 2014

Skenario Mimpi

nemu file lama... 
File  Name : Skenario Mimpi
Date Modified :  26 Maret 2012

pas dibaca lagi,,, mesem mesem sendiri... ^0^
edit sana edit sini... 
sipp... 
numpang nyimpen file di sini... biar g angus,,,

===========================================================

Prosesi itu berjalan begitu sederhana.
Hanya dihadiri oleh orang tua kedua belah pihak,
Kerabat dan teman terdekat,
Selebihnya hanyalah jamaah yang kebetulan tengah berada di mesjid ini

Setelah takmir mesjid menyampaikan beberapa kalimat sebagai maklumat bagi para jamaah, prosesi itupun berlangsung.
Sebelumnya, demi menjaga kebersihan hati dan niat, bliau menyampaikan sepatah dua patah wejangan.
Singkat saja, karena berburu dengan waktu isya yang semakin mendekat.

Seusai Isya berjamaah...
perjanjian yang kokoh itu pun diikrarkan

Di satu sudut meja, yang menjadi saksi bisu ikrar suci ini
Dengan tangan menyalami, lelaki paruh baya itu mulai berujar:
“Saya nikahkan ananda Wadi Abdul Hamid bin Ahmad Musy’ari dengan ananda Riska Anantya binti Muhammad Prasetya dengan maskawin dibacakannya 10 ayat pertama Qur’an surat Al-Kahfi dibayar tunai”

Lelaki yang tadi disebutkan namanya semakin erat menggenggam tangan lelaki paruh baya itu di atas meja. Genggamannya seolah menyiratkan kemantapan dan keyakinan yang tak setengah setengah akan apa yang hendak ia ucapkan.
Ia pun mulai berkata, menjawab ikrar sang lelaki paruh baya

“saya terima nikahnya Riska Anantya binti Muhammad Prasetya dengan maskawin seperti yang disebutkan dibayar tunai”

Tegas, mantap, tanpa jeda, hanya dalam sekali nafas.

Seperti terlepas beban, para jamaah menghembuskan nafas panjang, tak ayal riun rendah pun tak dapat dihindari.
Semua orang berucap hamdalah... dan berseru “barakallahu laka wa baraka ‘alayka wa jama’a baynakuma fii khair”

Sementara itu terlihat di barisan jamaah akhwat, seseorang menyungkur sujud, bahunya berguncang, nampaknya kesyahduan ini ia tumpahkan di kedalaman sujud syukurnya.
Ia adalah sang pengantin perempuan.

Setelah tersalurkan semua hasrat hati dalam sujudnya, perempuan itu pun mengangkat wajahnya.
Dicarinya sepotong wajah teduh, wajah yang mulai saat ini akan menemani hari harinya.
Dan seperti terkoneksi dengan cepat, lelaki itupun menoleh, dan disanalah mata mereka bertemu.
Meski berjarak  beberapa meter namun hati mereka saling rangkul. Itulah ni’mat pertama yang mereka rasakan sebagai sepasang suami istri.
Barakallah........

Perempuan itu mengangguk, pertanda ia siap untuk menerima pembayaran ikrar itu dengan pembacaan 10 ayat pertama Qur’an surat Al Kahfi.
Tanpa mushaf ditangan, lelaki itu memejamkan mata. 
Semua saksi bersiap menyimak bacaannya...
belum lagi dimulai pembacaan ayat tersebut,,,
tiba tiba.........



Riskaa...... !!! Riska.....!!!

yang dipanggil bingung mencari sumber suara,,,
hatinya sedikit jengkel, dan bertanya tanya
siapa gerangan yang berteriak ditengah kekhusyu'an ini...

Subuh dulu.... !!! dah mau iqamat tuh.....

astaghfirullahal'adhiim....
ternyata hanya mimpi... 
*senyam senyum sendiri,, sambil menggaruk kepala yang tak gatal
tampak merasa malu pada semua penghuni kamar ....


===========================================================


Rabu, 23 Juli 2014

I Wanna Be A Mother (a great mother)

Gambaran sosok ibu yang sangat menyentuh, digambarkan Ust. Salim A.Fillah

Ibu...!
Ini kata tentang penegasan madrasah agung. Tempat anak anak mempertanyakan semesta dengan bahasa paling akrab, harapan paling memuncak, dan keingintahuan paling dalam. Ini dermaga pengaduan paling luas saat meresa rasa teraniaya. Ini belai paling menentramkan saat mereka

gelisah. Dan ini dekapan paling memberi rasa aman saat mereka ketakutan. Ibu, perpustakaan paling lengkap, kelas paling nyaman, lapangan paling lapang, tak pernah ia bisa digantikan oleh gedung-gedung tak bernyawa. 

potongan kalimat yang sangat menginspirasi saya, dari karya beliau Saksikan Bahwa Aku Muslim. (Salim A. Fillah, 2007 : 268)

satu lagi, masih tentang keluarga yang ditulis oleh Ust. Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta.

Sebab keluarga adalah pelabuhan jiwa kita, dan lautan adalah medan karya kita. Di lautan luas itu kita berkarya dan berkreasi. Tapi ke pelabuhan itu jua kita menambat perahu jiwa, pada akhirnya. (Anis Matta, 2009:182)

dan satu Motivasi dan inspirasi terbesar saya sebagasi seorang wanita adalah Khadijah r.a. 
Jibril mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, inilah Khadijah yang datang sambil membawa bejana yang di dalamnya ada lauk atau makanan atau minuman. Jika dia datang, sampaikan salam kepadanya dari Rabb-nya, dan sampaikan kabar kepadanya tentang sebuah rumah di surga, yang di dalamnya tidak ada suara hiruk pikuk dan keletihan.”


semoga Allah memantaskan saya untuk menjadi satu dari sekian banyak syahidah dan mujahidah keluarga.
berjuang sekuat hati mencipta peradaban dalam rumah.
seperti para ibu di Gaza, Palestina.
Ibu yang tangguh


tapi satu PR saya saat ini,, adalah mencari sosok ayah untuk anak anak saya kelak ^__^