Kamis, 07 Mei 2015

[Umrah] Catatan Hati

Mekah, Senin, 13 April 2015. Hari terakhir mulai berani thawaf sunnah sendirian. Sehabis subuh sambil menunggu dhuha, memberanikan diri thawaf sunnah sendirian. Mendengar rintihan doa dari para jamaah, dengan langit pagi yang bersih merasa semakin khusyu dengan doa yang terlantun.

Sehabis 7 putaran, memberanikan diri menerobos jamaah menuju ke rukun yamani, mencium bagian kabah yang tak tertutupi kain. Kemudian penerobosan yang kedua, kali ini tujuannya adalah hijr ismail. Alhamdulilllah, bisa shalat 2 rakaat disana. Doa yg kuminta adalah mengenai orang tua, dan kerelaan tentang Rabb, Dien, dan Rasul-ku, juga doa Ibrahim a.s. tentang anak keturunan yg sholeh.

Sambil beristighfar kucoba menerobos hajar aswad. Sedikit ragu, karena lebih sesak dari dua titik sebelumnya. Kuputuskan untuk mengurungkan niat. Ketika hendak keluar dari perputaran, tiba tiba seorang bapak menarik tanganku, dan bertanya dalam bahasa yang kumengerti,
'sudah dpt blm?'
'belum' kujawab.
'sini... sini.. ikuti saya... Pegang tangan saya.'

Dengan secepat kilat dia membawaku menerobos barisan jamaah yang sangat sesak di depan hajar aswad. Dari caranya menyingkirkan satu per satu jamaah, dan membukakan jalan untukku, terlihat sangat sangat cekatan, lihai dan mantap. Tak seberapa lama akupun berhasil mencium hajar aswad. Momen perjalanan menuju titik hajar aswad, tak henti kusebut.. Radhitubillahirabbaw wabilislamudiinaw wabimuhammadinnabiyyaw warasuula.. Untuk menjaga hati dari khurafat dan mengkulltuskan hajar aswad. Alhamdulillah, ga terlalu lama menunggu, akhirnya dapat kesempatan mencium hajar aswad.

Selama proses dari si bapak itu bertanya, terus menarik tanganku dan akhirnya mengantarkanku mencium hajar aswad, ada beberapa pertanyaan. Ada rasa syukur bahwa Allah telah mengirimkan seorang bapak yang begitu baik mau membukakan jalanku dan mengantarkanku mencium hajar aswad. Namun tak sedikit juga kecurigaan dan kebingungan. Pertanyaan yang tak serta merta terjawab. Posisiku saat itu yang tak memiliki pilihan selain mengikuti si Bapak yang menggenggam tanganku dan membawaku mendekati Hajar Aswad. 


Saat menciumnya, aku teringat akan salah satu sahabat utama rasul yang mencium hajar aswad hanya karena Rasul saw juga menciumnya, tanpa tahu alasannya pun beliau rela mencium hajar aswad, karena kecintaanya pada Rasul saw.

Kucoba menghadirkan rasa itu ketika menciumnya. Dengan penuh khusyu' kucium hajar aswad dengan diawali kalimat 'bismillahi Allahuakbar'. Ternyata bibir ini tak mau lepas dari batu hitam itu, dan tanpa sadar aku menjadi sedikit emosional, kuucap 'bismillahi Allahuakbar' sambil menangis dan sedikit berteriak, bersamaan dengan itu sang bapak menarikku keluar lingkaran sesak manusia, dengan memegang kepalaku sehingga aku tengadah. Subhanallah... Aku makin berteriak dengan kepala menghadap langit dan mata terpejam. Tak berapa lama kamipun berada diluar lingkaran manusia.

Satu hal yang kurasa aneh, si bapak ini tak mau melepaskan tangannya, dan tetap menggenggamku erat sampai kami tiba di tempat yang cukup lapang. Aku mencoba melepaskan genggamannya, sambil mengucapkan terima kasih banyak telah mengantarkanku mencium hajar aswad. Tapi si bapak seperti tak mendengarkanku, ia tetap menggengamku dan kemudain memintaku untuk sujud syukur setelah kami tiba di tempat yang lumayan luas. Setelah selesai aku sekali lagi mengucapkan terima kasih banyak sambil kucoba (atau barangkali sudah) mencium tangannya - tanda takzhim seorang anak pada bapaknya. Untuk lebih mengakrabkan diri aku bertanya nama dan daerah asalnya, sayangnya aku lupa nama yang dia sebutkan, tapi aku masih ingat kalo dia berasal dari Banjar, Kalimantan. Ternyata dia mukimin di Mekkah, kalo ga salah dengar sih dia sedang belajar disana (hal yang selanjutnya aku ragukan).

Di sela-sela jawabannya yang bersamaan dengan pertanyaanku, aku menangkap kata-kata yang janggal. Sulit mengingat dengan jelas apa yang dia katakan,, tapi satu kesimpulan dan arti dari kata-katanya adalah ia meminta sedekahku karena Allah telah mengijinkanku mencium hajar aswad melalui perantaranya. Ya.. Tanda syukur lah...

Si bapak menyebutkan angka 500 riyal [kalo tak salah ingat]. Aku terhenyak kaget, dan dengan kesadaran penuh sambil menyeka air mata dan mengendalikan emosi, kukeluarkan riyal pecahan 100 dan menyerahkannya pada si bapak. Ia nampak tak puas, dia minta ditambahkan lagi riyalnya sambil berkata kembali sebagai bentuk syukurku pada Allah, dan utk bersedekah padanya sebagai seorang mukimin asal Indonesia disana. Akhirnya kukeluarkan lagi pecahan riyal 100 dan kuserahkan padanya. Dia tetaap meminta lagi, lalu kubilang 'ga ada lagi pak...' akhirnya diapun nampak rela. Tak jelas lagi kudengar kata-katanya saat menutup 'transaksi' kami, karena aku langsung berlalu sambil mengucap terima kasih.

Berlalu dengan hati yang penuh tanya, mencoba mencerna apa yang telah terjadi, dan mencoba menghadirkan kesadaran penuh sambil senantiasa beristighfar.

Aku kemudian fokus pada tujuan berikutnya, shalat dhuha. Dengan perasaan kebas, [feeling so numb] aku tunaikan dhuha 4 rakaat dengan dua kali salam. Sesudahnya, masih dengan persaan tidak jelas, sendirian aku kembali ke hotel tempatku menginap. Di perjalanan, sekali lagi aku mencoba mencerna apa yang tadi terjadi. Apa kiranya yang hendak Allah sampaikan padaku.

Kemudian jari ini menuliskan sesuatu di note ponselku :
Can’t believe that I’m such a naive person. I haven’t change yet.

#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@

That’s my whole feeling that day.

Setelah kejadian itu, barulah teringat tentang 'calo-calo' di Masjidil Haram
Astaghfirullahal'adhiim....







Senin, 04 Mei 2015

My Routine ^__*

nemu catatan lagi, tapi kali ini di akun facebook-ku
draft nya per tanggal : 31 Oktober 2011
pukul : 16.14

belum sempet di publish,, karena memang masih gantung kalimatnya... 

@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*


mentari pagi hangat menyapa 
menemani setiap langkah dalam perjalan menuju tempat berkarya

membuka ruang kantor disuguhi pemandangan langit yang bersih

selamat datang kesibukan,,

kucoba menunaikan kewajibanku sebaik mungkin hari ini
berjam jam menatapi si layar datar dengan serius
terkadang tanpa ekspresi 

tetangga sebelah sama sibuknya
seolah kami berada di dunia yang berbeda

tak banyak bicara,, 
hanya keyboard yang tak henti berbunyi

siang datang ditandai suara muadzin dari mesjid kantor 
subhanallah,, suara yang selalu dirindu
ialah rehat jiwa raga yang senantiasa ditunggu. ===>> yang ini mah tambahan, biar ga ngegantung :P 


@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*

Selasa, 21 April 2015

The Journey : Kuala Lumpur-Malacca-S'pore-Batam [so late post] A Way between

Well,, seems like it's not the last one... 

Setelah balada Mesjid Malaka yang melelahkan namun juga menyenangkan, kali ini saya coba mengingat dan menuliskan apa yang kami alami selama perjalanan kami menuju Singapura.

Let's get it started
Berangkat sekitar pukul tujuh pagi waktu Malaka dari guest house menuju Malaka Sentral. Setelah gagal sarapan bakpaw karena kegosongan di microwave. #ngakakgulingguling
(ketauan g pernah pake microwave, bakpaw tuh dikukus bukan dipanggang,,, hehe,, the very stupid of me)
Akhirnya sarapan beberapa potong apel yang dibeli di Giant sepulang dari Mesjid Malaka sehari sebelumnya.
Satu keberuntungan ketika si empunya guest house berbaik hati memanggilkan taksi untuk kami dengan ongkos setengahnya. Kenapa?? emang dapat diskon?? bukan,, kami bayar setengah karena selain kami, ada satu orang bapak Japanesse yang juga hendak menuju Malaka Sentral. heuheu,,, patungan gitu maksudnya... [Efisiensi itu penting buat backpacker,,, :D]

Tiba di Malaka Sentral, dimulailah kegalauan. Entah bagaimana awalnya, kami ketinggalan jadwal keberangkatan dari operator bus 707 Inc. Express seperti yang direncanakan di itinerary. Perlu diketahui bahwa setiap operator bis memiliki tempat pemberhentian yang berbeda di Singapura. Alasan memilih operator itu karena pertimbangan dekat dengan lokasi guest house kami di Singapura. Tapi, karena melihat jadwal keberangkatan berikutnya yang terlalu siang, kami putuskan untuk menggunakan jasa operator lain.

Perjalanan Malaka - Singapura cukup lancar, dan sebagian besar kami habiskan dengan tidur. Selain memang untuk beristirahat, juga untuk menangkal dinginnya air-con (bahasa melayu-y AC) didalam bis yang duinging binggitz.
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, bis berhenti di sebuah bangunan modern. Awalnya bingung, kenapa bis nya berhenti. Mlanga mlongo, baca situasi, konsekuensi dari malunya bertanya. Padahal kan kata pepatah, malu bertanya sesat dijalan. Tapi pepatah itu tak mempan mengalahkan rasa enggan saya untuk bertanya. #huff

Ditengah kebingungan dan ke-tidakberani-an untuk bertanya, saya mencuri dengar dari seorang penumpang di bis kami yang terlihat seperti seorang guide, bahwa tempat ini adalah check point negara bagian Malaysia. Artinya, it's all about immigration things. Oooww... hehe,, jadi keingetan. Ternyata hasil browsing dan blog walking sebelum berangkat menguap entah kemana.

Oke. Turunlah kita dari bis, according to the guide kita ga perlu bawa barang-barang kita, karena nanti kita akan berangkat menggunakan bis yang sama. Ada untungnya juga kenal sama bahasa Inggris, meski masih pasif.. hehe..
Memasuki check point -yang ternyata bernama- Bangunan Sultan Iskandar [BSI] menggunakan eskalator. Bangunannya cukup megah, memang sedikit kebingungan menentukan arah menuju gerbang pemeriksaan imigrasi, tapi tak terlalu rumit lah, karena rambu-rambu berbahasa Melayu masih mudah untuk dimengerti.
google


Ada satu kejadian menarik setelah melewati gerbang keimigrasian.
Ketika itu kami dihadapkan pada dua pilihan pelik [jreng jreng jreng #lebaii]. Ada dua eskalator turun disana. Kami bingung harus menggunakan eskalator kiri atau kanan. Kami juga tidak tahu where the escalator will lead us to [lebai bombai]. Dan diputuskanlah untuk menggunakan eskalator kanan, simpel aja sih, karena kalo kanan itu selalu lebih baik, in my opinion.

Tapi ketika tiba di lantai bawah, ternyata kami tiba di tempat parkir.. heuheu.. dan sepi banget.
Karena tak nampak bis yang tadi kami tumpangi, kami pun mencoba bertanya pada sesiapa yang kami temui. Kebetulan ada bapak polisi muda yang kece lewat, kami mencoba bertanya. Saya tanya pake bahasa Inggris, karena khawatir salah milih kata kalo pake bahasa Melayu. 

Si Bapak Polisi kece ini malah geleng-geleng kepala, sambil nunjuk-nunjuk arah.
Kalo diterjemah mungkin,, anda bisa coba pergi ke arah sana.. heuheu,, begitu kira kira.
Tak ada pilihan lain, kami ikuti instruksi si Bapak, dan ternyata bener dong, diseberang sana ada bis yang kami tumpangi tadi, dan kami harus menyebrang karena berseberangan arah.

Ternyata, eskalator turun itu menentukan kita berada di sisi sebelah kanan atau kiri dari tempat parkir. Heuheu,, dan ternyata juga bis yang kami tumpangi memang parkir di sebelah kiri... #parah
Jadi,, sebelah kanan selalu lebih baik,, it doesn't work all the time,, it depends on what it's all about.... #lessontolearn

Setelah proses imigrasi di Malaysia selesai, kami berangkat menuju check point Singapura => Woodland. Prosesnya lumayan lancar. Berbeda ketika di BSI, kami turun dari bis dengan membawa barang-barang, karena belum tentu kami menggunakan bis yang sama ketika beres dengan urusan imigrasi. Singkat cerita, bereslah urusan imigrasi [padahal memang tak tersisa detil cerita mengenai imigrasi Woodland di memori ini], dan kami pun menuju tempat parkir, mencari bis dari operator yang sama.

hhmm,,, inginnya sih nerusin ceritanya,, tapi sepertinya akan sangat menyita halaman,, 
jadi,, saya buatkan satu tulisan terakhir saja mengenai cerita kami di Singapura. :D

Kamis, 12 Maret 2015

Another Journey [a spiritual one],, Bismillah...

Rutinitas ternyata bisa membuat mati rasa. Karena ia ternyata mengundang kepenatan.
Ahh,, bahagianya bagi sesiapa yang menjalani rutinitasnya bagai menjalani mimpi.
Sungguh cemburu!

Tepat tujuh tahun, bergelut dengan hal yang sama. Terkadang memang ada permasalahan, tapi bukanlah sebuah variasi yang menyenangkan. Interaksi antar personil yang juga sangat menguras energi, semakin menambah penat. 

Pernah satu kali, ada niatan untuk mengambil rehat panjang. Tapi, sebagai seorang yang senantiasa bermain aman (istilah halus untuk coward; hehe..) kebingungan mencari alasan kuat untuk itu. Alhasil tak pernah rehat panjang sejak pertama kali berkantor dan berstatus pegawai. Sebagai akibatnya, kepenatan ini tak pernah mau menghilang. Seperti sebuah gelas yang terus menerus dituangkan air kedalamnya, lama kelamaan air meluber keluar dari gelas karena tak tertampung.

Mulanya sih merasa yakin bisa mengatasi semuanya. Mengenai rutinitas harian, bulanan bahkan ritual tahunan, juga masalah rekan kerja semuanya masih bisa terkendali. Tapi, ketidakikhlasan dalam berinteraksi dan ber-rutinitas, terlalu banyak berharap pada makhluq yang membuat jiwa ini kian kerdil.

Sang gelas tak pernah bisa men-transformasi-kan dirinya menjadi wadah yang lebih besar untuk menampung air lebih banyak. Ia setia dan rela dengan pikirannya sebagai gelas, terlalu fokus pada air ia lupa bahwa dirinya adalah baskom atau mungkin ember.

Keluh kesah yang membuat kita tak bisa berkembang. Fokus pada pengembangan diri, itu yang seharusnya terjadi, bukan fokus pada masalah yang membuat kita merasa kerdil.

Pernah terlintas ide untuk pergi umroh, sebagai dispensasi rehat panjang yang saya perlukan. Tapi, merasa belum cukup bekal untuk pergi kesana. Karena yang saya tahu, selain harus siap dana juga harus mempersiapkan mental, dan tentunya diperlukan keikhlasan dan lurusnya niat. Bimbang, GALAU, pergi atau tidak. Mencoba mentafsir setiap pertanda, mencari jawab dari kebingungan. Akhirnya, memantapkan hati untuk pergi. 

Sempat mundur lagi, melihat pergerakan dollar yang semakin menggila. Karena jujur, satu yang menjadi ketakutan adalah masalah dana. Tapi alhamdulillah, bulan ini Allah memberi saya bonus, dan itu menjadi penguat niat untuk booking seat di travel ini

Ya.. meskipun belum tentu pergi, setidaknya one step closer untuk pergi umroh. Semoga Allah ridho. Bismillah. 

taken from google

Senin, 02 Maret 2015

The Journey : Kuala Lumpur-Malacca-S'pore-Batam [so late post] Malacca

Malacca atau Melaka atau juga Malaka, merupakan ibukota Negara Bagian Malaka-Malaysia. Sebuah kota yang dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2008. Kedatangan kami ke kota ini yang terlalu larut menyebabkan tak banyak yang bisa kami lakukan selain langsung menuju guest house kami. Tapi fajar pagi di kota ini sungguh cantik, terlebih dilihat dari teras lantai dua guest house kami yang berada di tepian sungai Malaka.
fajar hari pertama @guest house

Karena wilayahnya yang tidak terlalu luas, sepertinya melakukan eksplorasi Malaka dalam satu haripun cukup. Hanya saja, waktu itu kami terlalu bersemangat mencari Mesjid Malaka, yang ternyata cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu yang kami punya memang tersita untuk mencari dan bertanya arah ke mesjid tersebut. Hampir seharian kami mencari Mesjid Malaka dengan berjalan kaki. Mungkin lebih dari 20 KM kami berjalan kaki [asumsi ini diambil setelah melihat rambu bertuliskan 20KM di jembatan-arah jalan menuju Mesjid Malaka], dimulai dari guest house kami di kawasan pecinan Jalan Kampung Pantai, Jonker, sampai ke Mesjid Malaka yang letaknya jauh di bibir pantai Selat Malaka. Sungguh perjalanan yang luar biasa. Dengan kondisi sarapan seadanya, kami sempet ragu dengan arah yang tengah kami tempuh. Takut kalau saja perjalanan sejauh ini berujung pada kekecewaan dengan tidak menemukan tempat yang dimaksud. 

Menyusuri proyek pengembangan di kanan kiri jalan menuju Mesjid, membuat semangat kami semakin menyusut, seperti balok es yang terlimpahi sinar matahari siang hari, seperti itulah keadaan kami. Tapi apapun yang terjadi, tak ada piilihan lain kecuali kami tetap menyusuri jalan setapak yang sepi, hanya ada orang-orang yang tengah memotong rumput disepanjang bibir pantai -yang kami ragu itukah Selat Malaka-. Kami meneruskan berjalan kaki, berharap agar pantai ini benar-benar akan mengantarkan kami ke Mesjid Malaka. 

Alhamdulillah -segala puji hanya milik Allah- ketakutan kami tak terbukti, sebaliknya keteguhan kami ternyata membuahkan hasil. di ujung perjalanan kami melihat bangunan kubah mesjid. Ternyata memang itu mesjid yang kami cari. Posisinya memang di bibir selat, area depan mesjid dipenuhi bangunan entah ruko atau apartemen yang berjejer seragam sama tinggi dengan cat warna warni. Sepertinya tengah dilakukan pengembangan besar-besaran di kawasan tersebut, terlihat dari gambar besar yang menutupi proyek tersebut. 

front side

left side


Beristirahat di gazebo kecil di halaman mesjid sambil menikmati angin pantai yang semilir, ditemani sisa minuman dan makanan ringan dari perjalanan sebelumnya, membuat semua kelelahan menjadi hilang, tergantikan oleh rasa damai. Memang betul bahwasanya rumah Allah akan selalu menghadirkan kedamaian bagi sesiapa yang mencari. Tak cuma kedamaian, makanan pun Allah sediakan bagi kami yang musafir.. hehe... Alhamdulillah,, berkah hari jumat di Mesjid Malaka, kami kebagian jatah makan siang. Sebungkus bihun goreng plus telor ceplok menjadi penyambung hidup kami yang kelelahan dan kelaparan [lebay dot com] :D

Perjalanan melelahkan mencari mesjid Malaka, tak lantas membuat kami lupa akan kegembiraan yang menyapa lebih dulu ketika mengunjungi icon icon Situs Warisan Dunia-Malaka :


Christ Church Melaka

Kincir Air Malaka

Museum Maritim Malaka
dan terakhir adalah Jonker Night Market, di sepanjang Jonker Street-Malaka. Tak asing lagi, kalau soal pasar malam, pasti yang mendominasi adalah kaumnya Jet Lee, hehe... 




Selasa, 17 Februari 2015

Bulan Terbelah di Langit Amerika - sebuah resensi pribadi -

Seminggu yang lalu saya selesai membaca buku terbaru Mba Hanum Rais, judulnya Bulan Terbelah di Langit Amerika yang katanya juga akan segera difilmkan tahun ini. Karena tersemangati film islami "Assalmualaikum Beijing"-nya Mba Asma Nadia, saya mulai melirik dan merunut film film islami yang bekualitas lainnya. Dan teringat film 99 Cahaya di Langit Eropa -saya ga sempet nonton di bioskop. Untuk menebus perasaan bersalah karena kurang mendukung film islami tersebut, saya putuskan untuk menikmati karya Mba Hanum dengan membeli semua buku-buku beliau. Ya,, terkecuali buku tentang biografi yang beliau tulis.

Berkisah tentang islamophobia di Amerika Serikat pasca 9/11 (nine eleven) atau disebut juga black tuesday. Petualangan Hanum Rangga ke Amerika, diawali dari permintaan insane sang pemilik modal dari media tempat ia bekerja. Mendasarkan pada oplah media gratisan di Wina itu, Hanum diminta atasannya untuk membuat satu artikel superb. Hanum disodori satu tema atau judul artikel yang memicu perang batin baginya, "Would the world be better without Islam"

Tentu saja semua orang yang mengaku muslim akan marah ketika disuguhi hipotesa itu. Begitupun Hanum, dan ia menolaknya untuk pertama kali. Namun nalurinya kembali tersadarkan, ketika Gertrud -sang atasan- mengatakan bahwa jika bukan ia yang menuliskannya, maka kemungkinan besar hipotesa ini akan terjawab dengan mudahnya. Dengan mencoba meredakan emosi akhirnya Hanum bersedia untuk menuliskannya.

Mulai dari sini, meluncurlah semua penggambaran penulis tentang Amerika yang berkaitan dengan eksistensi Islam disana. Tentang sejarah penduduk asli Amerika Serikat yang dinamai Melungeon, dan keterikatannya dengan para pelancong muslim dari Spanyol, tentang nukilan Al qur'an yang tertera di Instansi Pengadilan di sana, juga tentang Asmaul Husna yang menjiwai isi deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat. Meskipun di akhir buku, penulis mengatakan bahwa beberapa peristiwa masih bersifat debatable, tak mengurangi semangat penulis untuk membawa pembaca pada petualangan menyingkap eksistensi islam di sana. 

Ya... karena masih bersifat debatable (tentu tidak semuanya), mungkin sekali ada yang merasa kurang puas atau bahkan kecewa, namun cobalah berpikir dari sisi yang berbeda. Seperti Julia Collinsworth yang meminta Hanum untuk tak marah ketika tahu salah satu patung yang berdiri di Supreme Court itu dimaksudkan adalah Nabi Muhammad SAW.


“Apa? Wajah Nabi Muhammad junjunganku terpahat di atas gedung ini? Apa-apaan ini! Penghinaan besar!” seruku pada Julia. Mataku hampir berair menatap patung di dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung Amerika Serikat, tempat para pengadil dan terhukum di titik puncak negeri ini.



“Jangan emosi. Tak bisakah kau berpikir lebih jauh, Hanum? Bahwa negeri ini telah dengan sadar mengakui Muhammad sebagai patron keadilannya. Bahwa Islam dan Amerika memiliki tautan sejarah panjang tentang arti perjuangan hidup dan keadilan bagi sesama.

“Akulah buktinya, Hanum.”


Supreme Court

Debatable berarti tidak ada yang salah dan benar. Semuanya masih mungkin. fifty fifty. Hanya masalah waktu yang akan menegaskan mana yang menjadi fakta dan mana yang bukan. Bisa jadi dan sangat mungkin, ada berjuta fakta tentang Islam yang menunggu untuk terungkap di negeri Paman Sam itu. 

Satu hal yang saya rasa terlalu "maksa" dalam buku ini adalah peristiwa koinsidental yang diciptakan. Hal ini juga disinggung penulis di akhir bukunya. Hanya untuk mengingatkan kita bahwa segala sesuatu itu mungkin. Bahwa ada tangan dengan ke-Maha-annya yang mampu menggerakkan apapun, suatu hal yang dianggap tak mungkin dapat sangat mudah terjadi, begitupun sebaliknya. Tapi entahlah,, it's just to common.. Tak terduga sama sekali. Mungkin karena secara pribadi ada pengharapan yang lebih dari itu. 

After all,, it's a good book. 3 stars out of 5. 
Perlu banyak lagi buku ber-genre seperti ini. Untuk menggugah dan mengingatkan bahwa menjadi muslim adalah sebuah kebanggaan. Be a true believers.

Beberapa potongan gambar saya ambil dari google untuk memvisualisasikan bangunan yang disebut di buku tersebut.

Thomas Jefferson Memorial -
founding father America yang mampu berbahasa Arab - 
Abraham Lincoln - Presiden Amerika yang diceritakan keturunan Melungeon

Smithsonian Museum

and last but not least,, the most i curious about is The Central Park of NYC
ternyata benar apa kata Hanum, lebih dari sekedar Central Park,, tapi HUTAN... 
you can find more info of this city park here 


Senin, 05 Januari 2015

The Journey : Kuala Lumpur-Malacca-S'pore-Batam [so late post] Kuala Lumpur

Awalnya postingan ini berisi beberapa foto perjalanan kami, tapi semakin dilihat dan dibuka lagi, merasa tak cocok dengan hati, merasa terlalu biasa dan ga banget. Maka dari itu saya putuskan menghapus beberapa foto-foto (yang kurang penting) tersebut dan menggantinya dengan ulasan mengenai perjalanannya. Ya,, mudah2an bukan sekedar nunjukin kalo kami pernah kesana dan kesini, tapi juga semoga mampu memberikan informasi berguna.

it was so late post,, mungkin karena tahun 2014 adalah tahun tersibuk saya untuk urusan pekerjaan. Jarang sekali ada waktu untuk membuka dan membuat postingan baru. (i know it's none of your business :D)

but,,, here we go..

Diawali dengan keterlambatan selama satu jam di Bandara Husein Sastranegara-Bandung, sampai akhirnya kami tiba di KLIA2 sekitar jam 13.00 waktu Malaysia. KLIA2 ini adalah bandara khusus untuk penerbangan berbiaya rendah, pengganti LCCT sebelumnya. (LCCT=Low Cost Carrier Terminal). Bangunannya cukup megah, dan berjarak [katanya] 2 kilometer dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA).

KLIA2 ini baru beroperasi bulan Mei 2014, bertepatan dengan jadwal keberangkatan kami. Awal cari-cari info kedatangan di Kuala Lumpur masih belum ngeh apa itu KLIA2, karena kamusnya masih LCCT aja, ternyata pas buka web resmi maskapai penerbangan milik Malaysia itu, ternyata LCCT digantikan KLIA2. Alhamdulillah dari situ relatif lancar merancang itinerary nya.

foto: tjiptadinata effendi
[found it on kompasiana]
Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, tibalah di bagian imigrasi, berbeda ketika berjalan menuju gerbang keimigrasian yang sepi dan hanya nampak orang-orang tengah berjalan, penampakan setelah gerbang keimigrasian lumayan lebih menarik. Dan salah satu yang eyecatching adalah display toko dengan lampunya yang semarak, tapi setelah dilihat dari dekat, yang mereka jual adalah rokok dan alkohol heuheu...

after immigration gate : it's a store

Sempet nyasar waktu nyari exit di area bandara menuju KLIA Express, malah masuk antrian para pekerja. Alhasil ditanyai petugasnya, dan akhirnya ditunjki jalan yang lurus :D. 

Seperti tertulis di itinerary disini setibanya di KLIA2 kami menuju KL Sentral. Pusat terminal terintegrasi untuk moda transportasi LRT (Light Rail Train), bus dan taksi. Dari titik ini kita bisa mengakses semua bagian Malaysia. Karena rencana kami ke Malaka, jadi kami mengambil jurusan menuju Bandar Tasik Selatan. Terminal bus untuk semua jalur keberangkatan dan kedatangan dari Malaysia bagian selatan. Terminalnya bersih banget, dan relatif lebih lengang dari KL Sentral yang sebelum nya kami singgahi. Kalau dibandingkan Terminal Leuwi Panjang Bandung sih, kayanya jauh banget, hehe... 

Meskipun tujuan utama nya ke Malaka, ga afdhal kayanya kalo ga berfoto dulu di Menara Kembar Petronas. Ya.. mumpung ke Kuala Lumpur gitu. Jadi, dari KL Sentral kami menuju KLCC (Kuala Lumpur City Center) menggunakan LRT Kelana Jaya Line, dan tibalah di Suria KLCC, mall megah yang juga merupakan stasion kereta. 


Ternyata susah sekali dapat angle yang bagus, tapi lumayan lah,, heuheu,
Makan siang di Mall megah Suria KLCC, shalat dhuhur dan ashar di Mesjid Asy-Syakirin KLCC. 
Jujur, saya penasaran melihat bangunan mesjid ini, yang pertama kali saya baca ulasannya oleh dr. Tauhid Nur Azhar disebuah tabloid . Membaca penggambaran beliau tentang megahnya mesjid yang berada dijantung kota, seolah sebuah oase diteriknya dunia. Tapi apa yang saya dapatkan, tidak sesuai dengan bayangan. Entah salah mengambil arah menuju mesjid, entah terlalu bingung dengan banyaknya proyek pembangunan disekitar KLCC saat itu yang membuat saya kurang bisa menikmati bangunan megahnya. 
taken from wikimedia common
Tiba di Bandar Tasik Selatan, menuju Terminal Malaka Sentral dengan jadwal keberangkatan menjelang maghrib. Menghabiskan waktu kira-kira 3 jam untuk sampai di Malaka. Jam 22.00 waktu Malaka kami tiba di Malaka Sentral, karena terhitung terlalu larut malam maka hanya tersedia taksi untuk mencapai guest house kami. Dan Alhamdulillah sampai di guest house sekitar pukul 23.00 waktu Malaka. 

Dan rencana untuk meng-eksplor Malaka pun ter-realisasi. Bismillah...:)