Selasa, 16 Februari 2016

Ini Tentang Mas Gagah #KMGPTheMovie



Belakangan ini sedang booming film Ketika Mas Gagah Pergi #KMGPTheMovie. Setelah sebelumnya tayang pula film layar lebar bertajuk Tausiyah Cinta yang sama ramenya, alhamdulillah. Memang belakangan ini film-film yang berlatar belakang ke-islam-an sedang marak. Mungkin diawali dari suksesnya film Assalamualaikum Beijing kali ya. Tapi, entahlah,, saya bukan pengamat film soalnya.

Oke, balik ke tema. Tentang #KMGP. Film ini merupakan film adaptasi dari kumpulan cerpennya bunda Helvy (@helvytianarosa), yang konon katanya terbit di majalah Annida tahun 1992 (sudah 24 tahun yang lalu ya...). Cerpen ini banyak memberi pengaruh positif untuk anak-anak muda jaman itu. Menginspirasi mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menyemangati mereka untuk lebih intens lagi belajar tentang keislaman mereka. Intinya, cerpen yang sangat menggugah. Masih katanya. Karena tahun segitu saya masih sangat ingusan. Hehe. 
[web-nya bunda Helvy, untuk tahu sejarah #KMGP]

Kalo boleh jujur, cerpen pertama yang saya baca karya bunda Helvy dan Mba Asma adalah Titian Pelangi, dan cerita yang sampai saat ini masih melekat adalah cerita tentang Mamih. Adegan paling menempel di memori saya adalah bagaiman bunda Helvy harus menahan malu menggunakan sepatu boots ke kampusnya. Luar biasa.

Tentang kehebatan cerpen #KMGP ini, bahkan sampai ibunda sang pemain utama Mas Gagah (@hamas.syahid) di versi film layar lebar ini juga terinspirasi dengan cerpen bertajuk sama #KMGP. Menginspirasi beliau (@yulyani_ummuhamas) dalam berbagai jalan tentunya. Pernah baca salah satu caption-nya di akun IG beliau, bahwa #KMGP menjadi satu dari sekian banyak inspirasi beliau dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Subhanallah. Ga kebayang jariah yang bunda Helvy tuai dari satu kisah menggugah ini. #iri_positif.

Dan saya sebagai seorang yang melankolis, bener-bener meleleh nonton filmnya. Perpisahan, satu kata yang selalu menjadi momok menakutkan buat saya. #eeaa

Setiap orang pasti memiliki sosok Mas Gagah dalam hidupnya. Sosok yang telah meninggalkan jejak kebaikan dalam hati kita. Sosok yang Allah kirimkan untuk kita lebih memahami tentang hakikat hidup. Tentang makna pertemuan, kebersamaan, bahkan sampai pada arti dari sebuah perpisahan. #mellooww.

Tapi adalah Allah Maha Tahu setiap hati kita. Allah Maha Tahu pelajaran apa yang harus disampaikan oleh lawan interaksi kita. Ada sosok lain selain sosok Mas Gagah yang Allah tunjuk untuk kita peroleh pelajaran berharga tentang hakikat hidup darinya. Bisa jadi merekalah sosok antagonis dalam hidup kita. Sosok yang telah menorehkan luka, rasa takut bahkan benci kedalam hati kita. Pada awalnya memang menyebalkan menemukan sosok-sosok itu, tapi seiring berjalannya waktu, kita fahami bahwa sosok itu memang harus hadir dalam hidup kita. Agar kita mampu belajar, berproses menjadi manusia yang jauh lebih baik.

Seperti kisah Yusuf as yang Allah ceritakan dalam Al Quran. Kisah ini diceritakan ulang oleh seorang ustadz muda karismatik, yang juga merupakan salah satu pemain dalam film #KMGPTheMovie. Beliau adalah ustadz @salimafillah. Ustadz muda yang sangat faham bagaimana menyampaikan kebenaran dengan bahasa kekinian. Mudah difahami dan mudah masuk kedalam hati siapapun yang bahkan baru kali pertama menyimak tulisannya. Selalu ada cinta dari setiap apa yang beliau sampaikan. Luar Biasa ustadz muda ini, usia-nya hanya terpaut 2 minggu lebih dulu denganku, tapi tsaqofah islam-nya luar biasa. And look at me !!! #iri_positif.

Kembali pada bahasan tentang kisah Yusuf as yang beliau sampaikan di akun IG nya. Betapa sangat memungkinkan seorang Yusuf as yang telah mengalami berbagai kejahatan fisik, emosi, bahkan sampai kejahatan seksual menjadi seorang jahat dan antagonis seperti semua orang yang telah memperlakukannya. Tapi Yusuf as dengan petunjuk Allah swt memilih jalan lain. Memilih untuk menjadi manusia terbaik, -memutus rantai kejahatan dan kebencian yang pernah membersamainya- sehingga kisahnya akan selalu menjadi bahan pembelajaran bagi sesiapa yang memiliki kesamaan jalan hidup dengan Yusuf as. Bahwa pilihan ada pada kita, terpurukkah atau bangkit. 
Kalau kata ust. @salimafillah mah "berjuang menjadi gagah"

Inilah hidup, tak selamanya segala sesuatu berjalan sesuai keinginan kita. Kita tak bisa hanya meminta dipertemukan dengan sosok Mas Gagah dalam hidup kita. Ada kalanya Allah menghadirkan sosok saudara Yusuf as dengan kebenciannya, sosok istri Al Aziz dengan intimidasinya, semua hanya sebagai wasilah/tempaan bagi kita untuk mampu mengeluarkan apa apa yang terbaik yang Allah titipan pada diri kita. 

Manusia hanya sebatas berkeinginan, tapi Allah jua lah yang Maha Berkehendak atas kita. Segala sesuatu Allah yang telah menentukannya untuk kita. Bahkan, ketika kehadiran kita mampu menjadi jalan hidayah dan jalan kebaikan bagi orang-orang sekitar, tak layaklah kita untuk berbangga atas diri kita. Karena semua hanyalah JARIAH yang telah Allah takdirkan atas kita. Ya,, semua hanya karena Allah mengijinkan kita menjadi jalan kebaikan bagi orang lain. Bukan, bukan karena kualitas diri dan ibadah kita, sekali lagi bukan. Semua hanyalah ke-Maha Pemurah-an Allah atas kita. #Alhamdulillah

Satu hadist yang sempat menjadi perbincangan di media sosial, terkait penjelasan seorang ulama di salah satu media televisi, hadist-nya tentang jaminan Allah atas Rasulullah untuk masuk surga.

“Tidak ada seorangpun yang dimasukan surga oleh amalnya.”
Para sahabat bertanya, “Termasuk anda, wahai Rasulullah?”
“Termasuk saya, hanya saja Allah meliputiku dengan ampunan dan rahmatnya.” (HR. Bukhari 6467, Ahmad 15236).
Saya tak hendak menyoal kontroversi terkait hadist ini, hanya saja menegaskan pandangan bahwa amal ibadah yang kita lakukan bukanlah penentu kita masuk surga atau tidak. Karena itu adalah hak preogratif Allah. Hanya saja iman, taqwa, dan semua amal ibadah yang kita niatkan semata mata hanya untuk Allah dan untuk mendekat kepadanya, adalah prasyarat utama datangnya keridhoan Allah pada kita. Jika Allah telah ridho, sangat mudah untuk Allah menganugerahkan surga untuk kita. Maka, jagalah selalu kedekatan kita dengan Allah, dengan senantiasa menjaga amalan harian kita. Wallahua'lam.

Senin, 25 Januari 2016

Pupuk Hati


Rabbi,,,
Biarlah ku pupuk hati ini dengan syukur dan ridho
Agar setiap cinta, harapan, dan mimpi yang Kau tanam disana
Dapat tumbuh subur dan menjulang untuk menggapai ridho-Mu jua

Berkali kucoba menanam 
Cinta, harapan dan mimpi disana
Selalu berakhir layu karena kecewa

Mungkin tak seharusnya mereka aku tanam disana
Mungkin seharusnya cukup menggantungkannya padaMu
Karena hanya Kau yang berhak memilih mana yang harus tumbuh disana

Maka ijinkanlah hatiku ini menjadi tanah yang subur
Agar menjadi tempat tumbuhnya cinta, harapan dan mimpi 
yang memang Kau takdir-kan aku atasnya.

******************************


Jika hati telah sebegitu ridho dengan segala ketetapanNya,
maka ia hanya akan disibukkan dengan kerja-kerja besar dakwah.

Tak ada lagi ratapan 
tentang cinta yang tak terbalas
tentang harapan dan mimpi yang kandas 

Karena dakwah ini bukan pekerjaan bagi mereka yang bermental kerdil
ialah kerja mereka yang tangguh, kuat namun lembut hati.
Bi idznillah.


inspired by senandung Al Maidany
"jangan jatuh karena cinta, tapi Bangun karena cinta"

Selasa, 29 Desember 2015

#jalan_sepi

Ialah jalan dimana tak banyak orang melaluinya
Ialah jalan dimana tak banyak teman mau membersamai

Disana terkadang kau harus menangis sendiri
Bukan tak ada teman yang sedia berbagi
Hanya saja merasa tak enak hati
Membebani mereka dengan masalah diri

Jalan ini yang kupilih
Mencoba menjadi manusia yang sedikit
Terpisah dari mereka -orang kebanyakan
Memilih menjadi unik ketimbang cantik

Sampai hari ini pun aku masih belajar
Menerima konsekuensi dari jalan yang kupilih
Terkadang menyesal dan tak jarang terjebak pada persepsi
Tapi selalu kucoba berdiri dan berjalan lagi
Meski dengan tertatih

Mengumpulkan kekuatan untuk kembali tegak
Tau mau rapuh, apalagi roboh

Tak ada satupun yang mampu membuatmu jatuh
Selain dirimu sendiri yang mengijinkannya menjatuhkanmu
Be strong and be brave...


Rabbi,,,
Wahai yang Maha Tahu,
Setiap kali merasa tak pantas dengan doa yang ku panjat,
Itulah aku yang mencoba merendah di hadapan-Mu yang Maha Tinggi,
Bukan, bukan ku hendak berburuk sangka pada-Mu,
Bukan pula hendak tak percaya dengan pengabulan doa dari-Mu,
Hanya saja,, selalu merasa maha kerdil dihadapan-Mu yang Maha Tinggi.

Ajariku doa terindah yang pernah terucap seorang insan.
Ialah doa hati,
yang terdapat ruh dalam setiap untaiannya,
yang terdapat percik harap juga takut akan pengabulannya.

Bismillah....



Rabu, 09 Desember 2015

Sahabat

Entah apa yang menjadi awalan kenapa akhir akhir ini saya seneng banget dengerin lagu "sahabat" nya Ali Sastra. Bukan lagu baru banget juga sih, karena sudah sering saya denger di radio. Tapi akhir akhir ini saya mulai mendengarkan lagu itu dengan hati, bahkan sering nangis nonton video clip nya. Lha.. Kenapa?

Merasa sangat tersentuh sama video clip-nya. Terlebih video clip nya berkisah tentang persahabatan duo personil edcoustic yang fenomenal di dunia per-nasyidan. Dan yang membuat video clip ini lebih melankolis adalah karena satu personilnya -yaitu Aden telah berpulang kepadaNya, mendahului kita semua. Video clip-nya sangat representatif dengan lirik dan lagu yang memang diciptakan oleh almarhum sendiri. #nangis

Melihat video clip dan memaknai liriknya menyadarkan saya akan satu hal, ternyata saya tak punya seorang sahabat :(

Pengalaman perpisahan dan kekecewaan membuat saya senantiasa tertutup dan terkesan menjaga jarak pada siapapun. Selalu meminta hati untuk merasa cukup hanya dengan Allah. Berkeluh kesah dan mengutarakan semuanya hanya pada-Nya. Tak salah memang, tapi ternyata saya merasa ada satu ruang kosong dalam hati.

Saya selalu mencoba untuk menjadi pendengar yang baik bagi siapapun yang bersedia bercerita pada saya. Mencoba memberi alternatif solusi dari setiap masalah yang mereka hadapi. Ya.. Bahasa keren nya belajar menjadi bijak, dan bersama sama belajar bagaimana bersikap bijaksana.

Mungkin adalah insecure namanya, ketika saya tak pernah merasa nyaman untuk bercerita pada seseorang. Tak berani untuk memposisikan orang lain sebagai sahabat -tempat berbagi berbagai hal. Selalu berpikiran, mereka pun miliki masalah sendiri tak bijak dan tak tega rasanya menambahnya dengan beban masalah saya.
Padahal bisa jadi mereka akan sangat senang ketika dipercaya menjadi tempat curhat, seperti apa yang saya rasakan ketika ada yang bercerita dan berbagi masalahnya dengan saya.

Tapi tetap tak mudah untuk saya. Rupanya saya lebih nyaman untuk memposisikan sebagai pendengar dan pengamat, ketimbang menjadi pelaku.

Dan dengan lagu "sahabat" nya Ali Sastra ini, membuat saya semakin yakin, bahwa kekosongan ini hanya bisa di isi oleh sosok sahabat. Seorang teman yang mampu menjadi tempat yang nyaman untuk bercerita dan berbagi segala hal. Sosok yang mampu menghapus insecure menjadi secure. Sosok teman untuk juga bersama sama berjuang menuju-Nya. Teman seperjalanan meniti jalan dakwah yang panjang dan tak pernah mudah. Teman yang mampu saling mengingatkan dikala lupa, dan mengoreksi dikala salah. 

...Semoga segera hadir...

Sahabat by Ali Sastra
Ciptaan alm. Deden Supriadi (aden edcoustic)

Sabtu, 21 November 2015

#edisigalau

Semenjak punya HP baru dan id instagram, jadi sering bikin #textgram. [heii,, kemane aje!]
Salah satunya adalah gambar ini. 

Sengaja hanya saya posting di blog ini, agar tak terkesan menyebarkan virus ke-galau-an di akun sosmed saya. 
[asumsi: tak banyak yang buka blog saya jadi bisa meminimalisir efek; humble banget ya:-D ]

Maksud dari gambar ini adalah mencoba memberikan fokus lain[khusus bagi saya] agar bisa #move_on dari meratapi Mr. Right yang tak kunjung datang. Terlebih ketika pertanyaan dari keluarga tak kenal waktu dan situasi. [hiks.. andai mereka tahu apa yang saya rasakan;lebaii]

Rata-rata jawaban standar dari para pembicara seminar pra nikah adalah "jadikan diri kita lebih pantas"
"isilah masa penantian dengan senantiasa memperbaiki dan mematutkan diri"
Awalnya sih saya sepakat dan setuju, tapi setelah mencoba berjalan [#moveon] dengan jargon itu, merasa ada yang kurang pas dengan saya. [peringatan: efek yang ditimbulkan bisa bervariasi]

Saya merasa nasehat itu berkata "berarti selama ini saya tak pantas dan tak baik??" 
#mikirlagi

Ya... Memang nasehat itu tak selamanya cocok dengan kita. Layaknya obat, ada yang cocok dan manjur dengan obat generik ada juga yang manja, harus pake obat mahal. Hehe... Seperti itulah nasehat bagi saya. 

Hal yang paling penting bagi saya adalah bagaimana menguatkan diri dan menambah kesabaran. [hasil perenungan sebagai seorang single fighter]

Yang petama adalah menguatkan diri, yaitu kuat dalam menghadapi pandangan orang dengan ekspresi setengah kasian dan setengah empati pada saya. 
#mutlak pendapat pribadi B-)

Yang kedua adalah menambah kesabaran yaitu sabar dalam doa dan harapan. Cari resep dari semua juru nasehat tentang pentingnya konsisten dalam berdoa. Karena buah kesabaran itu sangat indah. 

Kaya lirik lagunya Westlife: that everything has got its place in time... 
So... Be wise and patience...
[ketauan deh anak jaman mana]

At last but not least,, jodoh kematian itu sudah sangat pasti datangnya. Dan memang kita tak pernah tau posisi kita, apakah lebih dekat kepada jodoh Kematian atau kehidupan. Wallahua'lam.




Senin, 05 Oktober 2015

Aku, dan Pekerjaanku

Menjadi perempuan yang bekerja memang tak gampang. Begitu banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan untuk hati, idealisme, dan juga ego. Mungkin bukan bagi kaum perempuan saja, bagi laki-laki pun bisa jadi sama adanya.
1.EgoYaitu,persepsi seseorang tentang harga dirinya, yang seterusnya mempengaruhi keyakinan dirinya.taken from :psikologi2009.wordpress.com
Hari ini tak akan mengupas tentang apa itu ego dan lain sebagainya, hari ini hanya ingin menuliskan sesuatu yang datang dari pemikiran pribadi. Bahwa sebaik apapun kita bekerja, orang lain akan menganggapnya biasa saja. Bahkan ketika kau pertaruhkan idealisme atau mungkin mencoba tuli terhadap nurani, mereka tak akan pernah tahu. 

Ya,, karena setiap orang selalu merasa paling baik. Sehingga tak ada lagi ruang di hati dan pikiran mereka untuk menyanjung atau bahkan sebatas mengucapkan terima kasih. Tak ada empati, karena setiap orang sibuk dengan struggle nya masing-masing. Mungkin ini yang dinamakan individualisme. 

Dan, aku tak hendak menjadi satu diantara berjuta orang macam itu. Aku ingin senantiasa memelihara rasa empati, mencoba memahami dan menyelami pemikiran yang tercermin dalam tingkah dan tindakan.

Empati tak akan datang kepada hati yang keras, ia menyapa hati-hati yang lembut. 
Melakukan segala sesuatu sebaik mungkin yang aku mampu, dengan tetap mempertahankan batas batas kemampuanku. Sepandai mungkin memilah waktu untuk diri dan keluarga, tanpa abai terhadap tanggungjawab pekerjaan. Ya... sepertinya itu jalan yang paling bijak untuk kulakukan mengingat posisiku sebagai pegawai. 

Bertanggungjawab terhadap pekerjaan itu bukanlah bekerja tanpa henti, tiada jeda. Tapi, lebih kepada cerdas mengatur waktu. Memberikan hak yang layak untuk setiap hak yang harus ditunaikan. 
Kebosanan memang akan selalu hadir, terlebih ketika pekerjaan yang ditangani bersifat kontinyu dan monoton. Bijaksana sepertinya kalau sesekali mengambil jeda. Bukan, bukan untuk terlena dalam jeda itu, dan tidak menyelesaikan pekerjaan yang tertinggal. Tetapi rehat untuk menemukan semangat baru. Untuk lebih baik dalam bekerja dan menyelesaikan pekerjaan. Untuk meminimalisir kesalahan.

Semua rangkaian kata ini keluar, diawali oleh komentar seorang rekan kerja yang begitu menohok. "Kalo sibuk kenapa masih punya waktu untuk jalan-jalan." 
Jalan-jalan di waktu istirahat maksudnya. Pulang istirahat memang seringkali lebih dari waktu yang ditentukan. Tapi, masih dalam batas yang wajar saya pikir. Ya,, itu dia,, semua orang merasa paling bener. 

Tapi, kembali pada "bijak" dalam menilai. Setiap orang batasan struggle-nya berbeda, daya tahan terhadap stress nya juga berbeda. Jadi,, ya,, selama kita punya alasan yang masuk akal dan tidak dibuat-buat serta tidak berlebihan,, masih tidak masalah sepertinya. 

Selasa, 11 Agustus 2015

Negeri dalam Mimpi

Aktivitas rutinku selepas kuliah -di sela-sela menunggu panggilan kerja adalah membaca buku. Salah satu buku yang berhasil aku selesaikan adalah buku Sirah Nabawiyah karya syaikh shafiyurrahman al-mubarakfury yang sangat tebal. Dan hal itu masih menjadi prestasi tersendiri buatku sampai saat ini. 

Ritual setelah selesai membaca beberapa halaman buku, aku merebahkan diri di salah satu kursi -kami menyebutnya kursi sudut. Karena alasan space kursi ini dibiarkan terpisah dengan yang lain dan sengaja di letakkan di samping jendela kaca dekat dengan meja belajar di lantai dua rumah kami. 

Tempat ini menjadi spot favoritku ketika membaca buku di siang hari. 
Karena dari kursi ini aku bisa langsung melihat langit lewat jendela kaca di sebelahnya. 
Bersih dan birunya langit menjadi penyejuk mataku yang kelelahan. 
Aku telungkupkan buku di dada, lantas melihat jauh ke angkasa sana.
lalu memejamkan mata dan menarik nafas panjang. 
Damaiiii.... membuat mimpi mimpi itu sangat dekat dan seolah nyata. 

Mimpi tentang berada jauh di negeri seberang, memberi manfaat kepada sebanyak banyaknya orang disana. Lalu dalam mimpi itu aku tersadar bahwa sejauh apapun aku berjalan hanya akan ada satu langit yang sama. Langit-Mu. Langit yang kupandangi disana kelak adalah langit yang sama yang kupandangi di sudut kursi di rumahku ini. 

Kini mimpi itu kian jelas. Bisa jadi adalah salah satunya.

Hari ini, entah berawal dari mana dan entah siapa yang membuat gambar ini termuat di halaman kronologi FB-ku. Tapi yang jelas karena gambar tersebut aku menulis di halaman ini. Berbicara dan menuliskan tentang mimpiku yang tak pernah aku tuliskan sebelumnya. Mimpi yang lebih senang aku nikmati dalam angan dan khayalku. 
Just like a dream of a princess that dreaming about her white horse prince. 
So disney doesn't it... :D

taken from FB : Tokyo Camii dengan caption "197 students came to learn more about Islam."

Satu keyakinan yang entah datang dari mana senantiasa berbisik, bahwa negeri seberang dalam mimpiku itu adalah Jepang. Bahwa langit yang kelak kupandangi jauh ber-ratus kilometer dari kursi tempatku merebahkan mimpi itu adalah langit Jepang. Ya... Jepang, negeri paling timur dunia, negeri tempat terbit matahari ini kelak akan makin bercahaya dengan Islam.


Negeri kafir yang islami ini kelak akan lebih mulia dengan Islam. Kelak ia akan membersamai kami dalam aqidah. Dan aku akan menjadi bagian dari barisan itu, barisan penyampai indahnya Islam disana. Aamiin. Insya Allah.

Tiada doa yang sia-sia, tiada mimpi yang percuma.