Selasa, 16 Juni 2015

S * Y * U * K * U * R

Menempati ruang kerja di lantai 4, dengan pemandangan langsung ke arah flyover kebanggaan urang Bandung -Pasupati, ditemani instrumental dari Depapepe. 
Angin berhembus lembut dari sela jendela yang dibuka setengah. 
Alhamdulillah. 
Matahari hari ini juga begitu cerah. 
Meski jarang merasakan hangatnya, tapi senantiasa merasakan cerah ceriahnya dari ruangan ini.

Ya Rabbi...
Wahai yang mengatur hidup dan kehidupanku
Sungguh, tak ada lagi yang hendak kuminta,,
Tersebab hamba telah terliputi semua karuniaMu

I am overwhelming by Your love
O Rabbi,, I'm gratitude for it

Semua pinta itu hanyalah ekspresi ketidaktahuan hamba
Kemaha dho'if-an hamba akan segala sesuatu
Ialah rangkaian kata penenang pikir dan pendamai hati

Semua pinta itu adalah
Karena aku makhluq dan Kau Khaliq
Karena aku membutuhkan pengabulan doa dari Mu

Seems like this song is the most representing my feeling today...
enjoy the love of our Creator,,,

I Love You So by Maher Zain


Alhamdulillahirabbil'alamiin...

Senin, 01 Juni 2015

The Journey : Kuala Lumpur-Malacca-S'pore-Batam [so late post] Singapore

Bismillah,,,

Tulisan terakhir ini memang sangat sangat luar biasa. Tidak seperti menulis ke-empat catatan sebelumnya yang terkesan mengalir begitu saja, kali ini saya harus berkali-kali googling termasuk menggunakan bantuan google map untuk memastikan data mengenai tempat-tempat yang kami singgahi. dan jujur hal itu malah membuat kami semakin tertawa lebar, menertawakan kekonyolan kami waktu itu. [thanks to me, tentunya untuk semua kekonyolan selama di S'pore :D]

Berangkat dari Malaka Sentral menggunakan Operator bus S&S International Express, dengan tempat pemberhentian di Keypoint Building, Beach Road, Singapore. Kekhawatiran akan sulitnya menemukan guest house kami yang berada di Jalan Pinang, Komplek Mesjid Sultan pun benar-benar terjadi. Semua itu hanya karena kurangnya persiapan untuk menjelajah S'pore, juga tidak siap dengan plan B tentang operator bus keberangkatan dari Malaka.

Setibanya di Beach Road, saya memberanikan diri bertanya pada seorang ibu dan seorang anak muda yang kebetulan tengah bersenda gurau di area gedung tempat bis kami berhenti, sepertinya mereka sekuriti di gedung tingi tersebut. Saya bertanya mengenai arah menuju Mesjid Sultan. Ekspektasi yang besar selalu sebanding dengan kekecewaan. Karena si ibu itu berjilbab, wajar sepertinya kalau saya miliki ekspektasi yang besar kalau beliau tahu mengenai arah Mesjid Sultan, tapi ternyata yang ditanya malah balik nanya sama si pemuda. dan dengan jawaban kurang meyakinkan, beliau bilang bahwa Komplek Mesjid Sultan ada dibelakang jalan ini (red: beach road). Jawaban yang disertai senyum ketidakyakinan mereka, membuat saya lebih tidak percaya diri. Kami [atau lebih tepatnya saya] putuskan untuk mencoba mencari jalan sendiri.

Kami pun berjalan menyusuri Beach Road, ditemani gedung-gedung pencakar langit yang nampak sangat tidak ramah [wajar lah, hanya sebuah dinding soalnya, jadi ga bisa senyum]. Logika nya simpel aja sih, kata si ibu tadi kan di belakang jalan ini (red: beach road), so,, menyusurinya dengan berjalan lurus kedepan maupun berbalik arah, toh akhirnya bakal sampai juga di bagian belakangnya kan. hehe... konsekuensinya ternyata tak sesimpel logikanya.

Di ujung Beach Road, kami menemukan persimpangan, karena bermaksud menuju belakang Beach Road, kami belok kiri di persimpangan tersebut menuju Crawford Street [tau dari google]. Menyusuri Crawford Street yang [ternyata] cukup panjang, ditengah terik matahari, dengan bakcpack yang lumayan berat, ditambah sarapan pagi yang sangat sangat minim menjadi atribut kepayahan kami waktu itu. [semakin merasa bersalah sama temen seperjalanan :'( ]

Seperti perjalanan menemukan Mesjid Malaka, kami lalui kepayahan kedua kali dalam menemukan komplek Mesjid Sultan dari bus stop di Keypoint Building, Beach Road. Menyusuri Crawford Street dengan beberapa kali berhenti untuk rehat dan meneguhkan langkah. Sangat berharap dapat segera menemukan kejelasan arah menuju guest house kami di komplek Mesjid Sultan. Tiba di ujung Crawford Street, yang ternyata dibelah oleh Kallang Street, dengan Lavender Street disebrang jalannya. Kami berhenti di persimpangan dan berbelok ke arah kiri menuju Kallang Road. Ya,, masih dengan logika [yang katanya simpel tadi] bahwa saya hendak memutar menemukan bagian belakang Beach Road untuk menemukan Komplek Mesjid Sultan. 

Tak jauh setelah kami berbelok arah ke Kallang Road, karena khawatir semakin lama terlunta lunta di jalanan saya kembali memberanikan diri bertanya kepada seorang passer by, a chinesse woman. Saya tidak bertanya tentang Mesjid Sultan tentunya, tapi bertanya arah area Bugis. Dia kemudian menunjukkan bahwa di depan ada station MRT, kami bisa naik MRT ke Station Bugis (EW12) yang merupakan pemberhentian berikutnya dari station MRT tersebut. Itulah station MRT pertama yang kami singgahin, station MRT di Kallang Road itu adalah Station Lavender dengan kode EW11, jalur MRT warna hijau. [thanks to google map]. 

dibawah ini saya capture peta perjalanan kami dari Keypoint, Beach Road sampai ke MRT Lavender kemudian berakhir di MRT Bugis. Perjalanan yang lumayan panjang dan melelahkan.




























Memasuki gedung MRT Station Lavender kami pelajari peta Singapura yang terpampang di pintu masuk menuju eskalator turun dengan seksama. Itulah enaknya di Singapura, informasi mengenai apapun mudah ditemukan dan sangat sangat accessible. Alhamdulillah semuanya berangsur membaik dan terkendali.

Tiba di Station Bugis, kami menyusuri Victoria Street menuju Jln. Pinang. Alhamduillah, bersyukur ternyata sudah sampai area Mesjid Sultan. Tapi nampaknya kami masih harus berlelah lelah sedikit untuk menemukan Superb Hostel -tempat kami menginap. Menyusuri Jln. Pinang -yang hanya beberapa meter- dari pangkal ke ujung jalan namun tak nampak bangunan dengan nama hostel tersebut. Merasa tidak yakin dengan penglihatan kami, kami mengulang untuk menyusuri Jln. Pinang dari Victoria street sampai ke ujung Mesjid Sultan, nihil. Masih tak menemukan hostel tersebut. Melihat nomor urut bangunan dan mencocokannya dengan email konfirmasi pemesanan kamar pun tak ditemukan. Karena nomornya ga berurutan. Lalu, entah bagaimana awalnya, terbersit menghampiri pintu dengan tulisan All Inn. Subhanallah, ternyata memang itu bangunan hostel nya. Padahal dah bolak balik liat tulisan itu,, hehe... Entahlah, saya kurang faham dengan perbedaan penamaan di booking web dengan fisik bangunannya. 
Well... itulah pengalaman hari pertama kami di Singapura,, temanya muter muter muter,,, round and round and round...

Kesepakatan kami diawal adalah setibanya di Singapura kami akan mengamankan dulu tiket pulang [menggunakan Ferry] ke Batam. Jadi, setelah bersih bersih, shalat dhuhur jama' dengan ashar, berkeliling komplek mesjid -tak lupa berfoto- kemudian makan siang, kami segera meluncur melanjutkan petualangan mencari dermaga Harbourfront yang terintegrasi dengan Vivo City -yang juga merupakan akses menuju Santosa Island-  dengan menggunakan MRT dari Bugis, transit di Outram Park, kemudian menuju ke Harbourfront.


it is me who shoot,, nice one isn't..??!!
Tiba di Harbourfront, kami berkeliling, berputar putar di Mall termegah di Singapura itu. Melihat sekeliling, membaca setiap informasi yang tertera, sampai memberanikan diri bertanya pada official/security di sekitaran Mall tersebut. Sempat nyasar sampai ke rooftop bangunan megah itu, dan apa yang kami temukan bukanlah suasana dermaga dengan tempat antrian penumpang Ferry, melainkan sebuah pool/kolam renang untuk keluarga,, heuheu,,, 
tapi,, the view is just great,, lumayan untuk melepas penat dan melemaskan kaki yang sedari tadi meregang karena banyak berjalan. 



Setelah berjuang tanpa lelah, akhirnya kami menemukan tempat pembelian tiket Ferry. Alhamdulillah. Ternyata bangunannya sedikit terpisah dari bangunan utama,, hhmm,, semacam extended building-nya mall itu. [kira-kira aja sih, dah pada lupa, dah ampir setahun yang lalu soalnya :D]

Ferry's ticket is done! next,, 
kami menyebrang menuju Santosa Island,, ya,, biasa lah,,untuk foto di Icon Universal nya. Karena takut ke-malam-an dijalan, kami mengurungkan niat untuk mengeksplor Santosa lebih jauh. Setelah berfoto kami putuskan untuk kembali ke daratan utama Singapura, rencananya sih menuju Garden By The Bay dan Merlion. 

Seperti yang saya ceritakan diawal bahwa betapa minim nya persiapan kami [khususnya saya] untuk eksplor Singapura, nah kejadian berikut ini adalah akibatnya -selain kejadian diawal kami menginjakkan kaki di bumi Merlion ini. 

Niat awalnya sih ke Garden By The Bay, culun nya saya, waktu liat peta MRT yang dicari adalah nama stasion yang berbau bau garden,, padahal ga ada dasar logikanya tuh,, 
dan akhirnya ketemulah Botanical Garden,, setengah yakin kita turun di stasion itu... :D
dan ternyata,, penampakannya jauh dari yang pernah saya lihat di google tentang Garden by the bay,,, [heuheu,, ya iyyalah,,, dari namanya juga beda kali,,]
woalahh,,, ternyata ini hutan kota tho'... :D
Tapi meskipun salah alamat,, Alhamdulillah,, hutan kotanya sejuk, terlebih untuk kami yang kelelahan. here are some pictures i took...







Hari semakin larut, kami memutuskan untuk segera berangkat menuju Merlion. Ya,,, belum ke Singapura namanya kalo belum berfoto bersama si Singa Duyung itu. Mencoba mempelajari peta MRT di Station Botanical Garden, karena di kali pertama saya menginjakkan kaki di Singapura, kemana mana diantar guide, jadi giliran berangkat sendiri bingung nentuin station mana yang harus dituju. Hhmm... selain itu juga persiapan menjelajah Singapura sangat sangat minim, berbeda ketika di Malaka, semuanya sudah terjadwal dan terencana. #shame_on_me_:(

It's hard and getting harder to recall,, because it's been a year ago since our journey..

Apa yang terjadi berikutnya adalah kami tersesat kesekian kalinya di Singapura, sampai sampai naik turun di dua station yang sama beberapa kali sebelum akhirnya nyampe di Marina Bay [round and round versi kedua]. Semakin menyedihkan ketika keluar dari Station Marina Bay, yang jelas nampak adalah Hotel Marina Bay Sand, Tak ada Merlion. Karena Merlion terletak jauh diseberang Hotel Marina Bay Sand itu. #sotoy sih :D

Merasa putus asa, karena malam semakin gelap. Kami kembali ke dalam station dan bertanya kepada seorang petugas tiket berkerudung, tentang jalan menuju Merlion serta kemungkinan kami tidak tertinggal dengan jadwal terakhir MRT. Dia bilang kalo kami masih mungkin menuju ke Merlion and still able to catch the last train. 
Alhamdulillah, akhirnya kami dapat pencerahan. Kalo dah gini, nyesel banget kenapa ga nanya dari awal awal. #mohon maaf pada teman seperjalanan.




Cerita kami tak berakhir disini. Masih ada cerita kekonyolan lain mejelang kepulangan kami dari Singapura. Adalah tentang keberangkatan dan kedatangan Ferry dari Singapura ke Batam yang salah kami pahami, dan menyisakan cerita tentang kebut-kebutan mengejar penerbangan [yang cuma satu kali dari Batam menuju Bandung itu]. Tentang taksi yang ngebut, tentang belanja oleh-oleh di injury time, dan tentang ketegangan kami didalam taksi selama perjalanan dari centra oleh-oleh menuju Bandara Hang Nadim. Nyaris tanpa kata, kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Berkalkulasi jikasaja tertinggal pesawat ke Bandung.

Tapi,, Alhamdulillah semua nya berjalan sesuai rencana, bahkan keberangkatan kami dari Batam menuju Bandung delay beberapa jam karena terkendala satu rombongan yang di recheck beberapa kali oleh kru pesawat. 


Kamis, 07 Mei 2015

[Umrah] Catatan Hati

Mekah, Senin, 13 April 2015. Hari terakhir mulai berani thawaf sunnah sendirian. Sehabis subuh sambil menunggu dhuha, memberanikan diri thawaf sunnah sendirian. Mendengar rintihan doa dari para jamaah, dengan langit pagi yang bersih merasa semakin khusyu dengan doa yang terlantun.

Sehabis 7 putaran, memberanikan diri menerobos jamaah menuju ke rukun yamani, mencium bagian kabah yang tak tertutupi kain. Kemudian penerobosan yang kedua, kali ini tujuannya adalah hijr ismail. Alhamdulilllah, bisa shalat 2 rakaat disana. Doa yg kuminta adalah mengenai orang tua, dan kerelaan tentang Rabb, Dien, dan Rasul-ku, juga doa Ibrahim a.s. tentang anak keturunan yg sholeh.

Sambil beristighfar kucoba menerobos hajar aswad. Sedikit ragu, karena lebih sesak dari dua titik sebelumnya. Kuputuskan untuk mengurungkan niat. Ketika hendak keluar dari perputaran, tiba tiba seorang bapak menarik tanganku, dan bertanya dalam bahasa yang kumengerti,
'sudah dpt blm?'
'belum' kujawab.
'sini... sini.. ikuti saya... Pegang tangan saya.'

Dengan secepat kilat dia membawaku menerobos barisan jamaah yang sangat sesak di depan hajar aswad. Dari caranya menyingkirkan satu per satu jamaah, dan membukakan jalan untukku, terlihat sangat sangat cekatan, lihai dan mantap. Tak seberapa lama akupun berhasil mencium hajar aswad. Momen perjalanan menuju titik hajar aswad, tak henti kusebut.. Radhitubillahirabbaw wabilislamudiinaw wabimuhammadinnabiyyaw warasuula.. Untuk menjaga hati dari khurafat dan mengkulltuskan hajar aswad. Alhamdulillah, ga terlalu lama menunggu, akhirnya dapat kesempatan mencium hajar aswad.

Selama proses dari si bapak itu bertanya, terus menarik tanganku dan akhirnya mengantarkanku mencium hajar aswad, ada beberapa pertanyaan. Ada rasa syukur bahwa Allah telah mengirimkan seorang bapak yang begitu baik mau membukakan jalanku dan mengantarkanku mencium hajar aswad. Namun tak sedikit juga kecurigaan dan kebingungan. Pertanyaan yang tak serta merta terjawab. Posisiku saat itu yang tak memiliki pilihan selain mengikuti si Bapak yang menggenggam tanganku dan membawaku mendekati Hajar Aswad. 


Saat menciumnya, aku teringat akan salah satu sahabat utama rasul yang mencium hajar aswad hanya karena Rasul saw juga menciumnya, tanpa tahu alasannya pun beliau rela mencium hajar aswad, karena kecintaanya pada Rasul saw.

Kucoba menghadirkan rasa itu ketika menciumnya. Dengan penuh khusyu' kucium hajar aswad dengan diawali kalimat 'bismillahi Allahuakbar'. Ternyata bibir ini tak mau lepas dari batu hitam itu, dan tanpa sadar aku menjadi sedikit emosional, kuucap 'bismillahi Allahuakbar' sambil menangis dan sedikit berteriak, bersamaan dengan itu sang bapak menarikku keluar lingkaran sesak manusia, dengan memegang kepalaku sehingga aku tengadah. Subhanallah... Aku makin berteriak dengan kepala menghadap langit dan mata terpejam. Tak berapa lama kamipun berada diluar lingkaran manusia.

Satu hal yang kurasa aneh, si bapak ini tak mau melepaskan tangannya, dan tetap menggenggamku erat sampai kami tiba di tempat yang cukup lapang. Aku mencoba melepaskan genggamannya, sambil mengucapkan terima kasih banyak telah mengantarkanku mencium hajar aswad. Tapi si bapak seperti tak mendengarkanku, ia tetap menggengamku dan kemudain memintaku untuk sujud syukur setelah kami tiba di tempat yang lumayan luas. Setelah selesai aku sekali lagi mengucapkan terima kasih banyak sambil kucoba (atau barangkali sudah) mencium tangannya - tanda takzhim seorang anak pada bapaknya. Untuk lebih mengakrabkan diri aku bertanya nama dan daerah asalnya, sayangnya aku lupa nama yang dia sebutkan, tapi aku masih ingat kalo dia berasal dari Banjar, Kalimantan. Ternyata dia mukimin di Mekkah, kalo ga salah dengar sih dia sedang belajar disana (hal yang selanjutnya aku ragukan).

Di sela-sela jawabannya yang bersamaan dengan pertanyaanku, aku menangkap kata-kata yang janggal. Sulit mengingat dengan jelas apa yang dia katakan,, tapi satu kesimpulan dan arti dari kata-katanya adalah ia meminta sedekahku karena Allah telah mengijinkanku mencium hajar aswad melalui perantaranya. Ya.. Tanda syukur lah...

Si bapak menyebutkan angka 500 riyal [kalo tak salah ingat]. Aku terhenyak kaget, dan dengan kesadaran penuh sambil menyeka air mata dan mengendalikan emosi, kukeluarkan riyal pecahan 100 dan menyerahkannya pada si bapak. Ia nampak tak puas, dia minta ditambahkan lagi riyalnya sambil berkata kembali sebagai bentuk syukurku pada Allah, dan utk bersedekah padanya sebagai seorang mukimin asal Indonesia disana. Akhirnya kukeluarkan lagi pecahan riyal 100 dan kuserahkan padanya. Dia tetaap meminta lagi, lalu kubilang 'ga ada lagi pak...' akhirnya diapun nampak rela. Tak jelas lagi kudengar kata-katanya saat menutup 'transaksi' kami, karena aku langsung berlalu sambil mengucap terima kasih.

Berlalu dengan hati yang penuh tanya, mencoba mencerna apa yang telah terjadi, dan mencoba menghadirkan kesadaran penuh sambil senantiasa beristighfar.

Aku kemudian fokus pada tujuan berikutnya, shalat dhuha. Dengan perasaan kebas, [feeling so numb] aku tunaikan dhuha 4 rakaat dengan dua kali salam. Sesudahnya, masih dengan persaan tidak jelas, sendirian aku kembali ke hotel tempatku menginap. Di perjalanan, sekali lagi aku mencoba mencerna apa yang tadi terjadi. Apa kiranya yang hendak Allah sampaikan padaku.

Kemudian jari ini menuliskan sesuatu di note ponselku :
Can’t believe that I’m such a naive person. I haven’t change yet.

#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@#@

That’s my whole feeling that day.

Setelah kejadian itu, barulah teringat tentang 'calo-calo' di Masjidil Haram
Astaghfirullahal'adhiim....







Senin, 04 Mei 2015

My Routine ^__*

nemu catatan lagi, tapi kali ini di akun facebook-ku
draft nya per tanggal : 31 Oktober 2011
pukul : 16.14

belum sempet di publish,, karena memang masih gantung kalimatnya... 

@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*


mentari pagi hangat menyapa 
menemani setiap langkah dalam perjalan menuju tempat berkarya

membuka ruang kantor disuguhi pemandangan langit yang bersih

selamat datang kesibukan,,

kucoba menunaikan kewajibanku sebaik mungkin hari ini
berjam jam menatapi si layar datar dengan serius
terkadang tanpa ekspresi 

tetangga sebelah sama sibuknya
seolah kami berada di dunia yang berbeda

tak banyak bicara,, 
hanya keyboard yang tak henti berbunyi

siang datang ditandai suara muadzin dari mesjid kantor 
subhanallah,, suara yang selalu dirindu
ialah rehat jiwa raga yang senantiasa ditunggu. ===>> yang ini mah tambahan, biar ga ngegantung :P 


@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*@*

Selasa, 21 April 2015

The Journey : Kuala Lumpur-Malacca-S'pore-Batam [so late post] A Way between

Well,, seems like it's not the last one... 

Setelah balada Mesjid Malaka yang melelahkan namun juga menyenangkan, kali ini saya coba mengingat dan menuliskan apa yang kami alami selama perjalanan kami menuju Singapura.

Let's get it started
Berangkat sekitar pukul tujuh pagi waktu Malaka dari guest house menuju Malaka Sentral. Setelah gagal sarapan bakpaw karena kegosongan di microwave. #ngakakgulingguling
(ketauan g pernah pake microwave, bakpaw tuh dikukus bukan dipanggang,,, hehe,, the very stupid of me)
Akhirnya sarapan beberapa potong apel yang dibeli di Giant sepulang dari Mesjid Malaka sehari sebelumnya.
Satu keberuntungan ketika si empunya guest house berbaik hati memanggilkan taksi untuk kami dengan ongkos setengahnya. Kenapa?? emang dapat diskon?? bukan,, kami bayar setengah karena selain kami, ada satu orang bapak Japanesse yang juga hendak menuju Malaka Sentral. heuheu,,, patungan gitu maksudnya... [Efisiensi itu penting buat backpacker,,, :D]

Tiba di Malaka Sentral, dimulailah kegalauan. Entah bagaimana awalnya, kami ketinggalan jadwal keberangkatan dari operator bus 707 Inc. Express seperti yang direncanakan di itinerary. Perlu diketahui bahwa setiap operator bis memiliki tempat pemberhentian yang berbeda di Singapura. Alasan memilih operator itu karena pertimbangan dekat dengan lokasi guest house kami di Singapura. Tapi, karena melihat jadwal keberangkatan berikutnya yang terlalu siang, kami putuskan untuk menggunakan jasa operator lain.

Perjalanan Malaka - Singapura cukup lancar, dan sebagian besar kami habiskan dengan tidur. Selain memang untuk beristirahat, juga untuk menangkal dinginnya air-con (bahasa melayu-y AC) didalam bis yang duinging binggitz.
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, bis berhenti di sebuah bangunan modern. Awalnya bingung, kenapa bis nya berhenti. Mlanga mlongo, baca situasi, konsekuensi dari malunya bertanya. Padahal kan kata pepatah, malu bertanya sesat dijalan. Tapi pepatah itu tak mempan mengalahkan rasa enggan saya untuk bertanya. #huff

Ditengah kebingungan dan ke-tidakberani-an untuk bertanya, saya mencuri dengar dari seorang penumpang di bis kami yang terlihat seperti seorang guide, bahwa tempat ini adalah check point negara bagian Malaysia. Artinya, it's all about immigration things. Oooww... hehe,, jadi keingetan. Ternyata hasil browsing dan blog walking sebelum berangkat menguap entah kemana.

Oke. Turunlah kita dari bis, according to the guide kita ga perlu bawa barang-barang kita, karena nanti kita akan berangkat menggunakan bis yang sama. Ada untungnya juga kenal sama bahasa Inggris, meski masih pasif.. hehe..
Memasuki check point -yang ternyata bernama- Bangunan Sultan Iskandar [BSI] menggunakan eskalator. Bangunannya cukup megah, memang sedikit kebingungan menentukan arah menuju gerbang pemeriksaan imigrasi, tapi tak terlalu rumit lah, karena rambu-rambu berbahasa Melayu masih mudah untuk dimengerti.
google


Ada satu kejadian menarik setelah melewati gerbang keimigrasian.
Ketika itu kami dihadapkan pada dua pilihan pelik [jreng jreng jreng #lebaii]. Ada dua eskalator turun disana. Kami bingung harus menggunakan eskalator kiri atau kanan. Kami juga tidak tahu where the escalator will lead us to [lebai bombai]. Dan diputuskanlah untuk menggunakan eskalator kanan, simpel aja sih, karena kalo kanan itu selalu lebih baik, in my opinion.

Tapi ketika tiba di lantai bawah, ternyata kami tiba di tempat parkir.. heuheu.. dan sepi banget.
Karena tak nampak bis yang tadi kami tumpangi, kami pun mencoba bertanya pada sesiapa yang kami temui. Kebetulan ada bapak polisi muda yang kece lewat, kami mencoba bertanya. Saya tanya pake bahasa Inggris, karena khawatir salah milih kata kalo pake bahasa Melayu. 

Si Bapak Polisi kece ini malah geleng-geleng kepala, sambil nunjuk-nunjuk arah.
Kalo diterjemah mungkin,, anda bisa coba pergi ke arah sana.. heuheu,, begitu kira kira.
Tak ada pilihan lain, kami ikuti instruksi si Bapak, dan ternyata bener dong, diseberang sana ada bis yang kami tumpangi tadi, dan kami harus menyebrang karena berseberangan arah.

Ternyata, eskalator turun itu menentukan kita berada di sisi sebelah kanan atau kiri dari tempat parkir. Heuheu,, dan ternyata juga bis yang kami tumpangi memang parkir di sebelah kiri... #parah
Jadi,, sebelah kanan selalu lebih baik,, it doesn't work all the time,, it depends on what it's all about.... #lessontolearn

Setelah proses imigrasi di Malaysia selesai, kami berangkat menuju check point Singapura => Woodland. Prosesnya lumayan lancar. Berbeda ketika di BSI, kami turun dari bis dengan membawa barang-barang, karena belum tentu kami menggunakan bis yang sama ketika beres dengan urusan imigrasi. Singkat cerita, bereslah urusan imigrasi [padahal memang tak tersisa detil cerita mengenai imigrasi Woodland di memori ini], dan kami pun menuju tempat parkir, mencari bis dari operator yang sama.

hhmm,,, inginnya sih nerusin ceritanya,, tapi sepertinya akan sangat menyita halaman,, 
jadi,, saya buatkan satu tulisan terakhir saja mengenai cerita kami di Singapura. :D

Kamis, 12 Maret 2015

Another Journey [a spiritual one],, Bismillah...

Rutinitas ternyata bisa membuat mati rasa. Karena ia ternyata mengundang kepenatan.
Ahh,, bahagianya bagi sesiapa yang menjalani rutinitasnya bagai menjalani mimpi.
Sungguh cemburu!

Tepat tujuh tahun, bergelut dengan hal yang sama. Terkadang memang ada permasalahan, tapi bukanlah sebuah variasi yang menyenangkan. Interaksi antar personil yang juga sangat menguras energi, semakin menambah penat. 

Pernah satu kali, ada niatan untuk mengambil rehat panjang. Tapi, sebagai seorang yang senantiasa bermain aman (istilah halus untuk coward; hehe..) kebingungan mencari alasan kuat untuk itu. Alhasil tak pernah rehat panjang sejak pertama kali berkantor dan berstatus pegawai. Sebagai akibatnya, kepenatan ini tak pernah mau menghilang. Seperti sebuah gelas yang terus menerus dituangkan air kedalamnya, lama kelamaan air meluber keluar dari gelas karena tak tertampung.

Mulanya sih merasa yakin bisa mengatasi semuanya. Mengenai rutinitas harian, bulanan bahkan ritual tahunan, juga masalah rekan kerja semuanya masih bisa terkendali. Tapi, ketidakikhlasan dalam berinteraksi dan ber-rutinitas, terlalu banyak berharap pada makhluq yang membuat jiwa ini kian kerdil.

Sang gelas tak pernah bisa men-transformasi-kan dirinya menjadi wadah yang lebih besar untuk menampung air lebih banyak. Ia setia dan rela dengan pikirannya sebagai gelas, terlalu fokus pada air ia lupa bahwa dirinya adalah baskom atau mungkin ember.

Keluh kesah yang membuat kita tak bisa berkembang. Fokus pada pengembangan diri, itu yang seharusnya terjadi, bukan fokus pada masalah yang membuat kita merasa kerdil.

Pernah terlintas ide untuk pergi umroh, sebagai dispensasi rehat panjang yang saya perlukan. Tapi, merasa belum cukup bekal untuk pergi kesana. Karena yang saya tahu, selain harus siap dana juga harus mempersiapkan mental, dan tentunya diperlukan keikhlasan dan lurusnya niat. Bimbang, GALAU, pergi atau tidak. Mencoba mentafsir setiap pertanda, mencari jawab dari kebingungan. Akhirnya, memantapkan hati untuk pergi. 

Sempat mundur lagi, melihat pergerakan dollar yang semakin menggila. Karena jujur, satu yang menjadi ketakutan adalah masalah dana. Tapi alhamdulillah, bulan ini Allah memberi saya bonus, dan itu menjadi penguat niat untuk booking seat di travel ini

Ya.. meskipun belum tentu pergi, setidaknya one step closer untuk pergi umroh. Semoga Allah ridho. Bismillah. 

taken from google

Senin, 02 Maret 2015

The Journey : Kuala Lumpur-Malacca-S'pore-Batam [so late post] Malacca

Malacca atau Melaka atau juga Malaka, merupakan ibukota Negara Bagian Malaka-Malaysia. Sebuah kota yang dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 2008. Kedatangan kami ke kota ini yang terlalu larut menyebabkan tak banyak yang bisa kami lakukan selain langsung menuju guest house kami. Tapi fajar pagi di kota ini sungguh cantik, terlebih dilihat dari teras lantai dua guest house kami yang berada di tepian sungai Malaka.
fajar hari pertama @guest house

Karena wilayahnya yang tidak terlalu luas, sepertinya melakukan eksplorasi Malaka dalam satu haripun cukup. Hanya saja, waktu itu kami terlalu bersemangat mencari Mesjid Malaka, yang ternyata cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu yang kami punya memang tersita untuk mencari dan bertanya arah ke mesjid tersebut. Hampir seharian kami mencari Mesjid Malaka dengan berjalan kaki. Mungkin lebih dari 20 KM kami berjalan kaki [asumsi ini diambil setelah melihat rambu bertuliskan 20KM di jembatan-arah jalan menuju Mesjid Malaka], dimulai dari guest house kami di kawasan pecinan Jalan Kampung Pantai, Jonker, sampai ke Mesjid Malaka yang letaknya jauh di bibir pantai Selat Malaka. Sungguh perjalanan yang luar biasa. Dengan kondisi sarapan seadanya, kami sempet ragu dengan arah yang tengah kami tempuh. Takut kalau saja perjalanan sejauh ini berujung pada kekecewaan dengan tidak menemukan tempat yang dimaksud. 

Menyusuri proyek pengembangan di kanan kiri jalan menuju Mesjid, membuat semangat kami semakin menyusut, seperti balok es yang terlimpahi sinar matahari siang hari, seperti itulah keadaan kami. Tapi apapun yang terjadi, tak ada piilihan lain kecuali kami tetap menyusuri jalan setapak yang sepi, hanya ada orang-orang yang tengah memotong rumput disepanjang bibir pantai -yang kami ragu itukah Selat Malaka-. Kami meneruskan berjalan kaki, berharap agar pantai ini benar-benar akan mengantarkan kami ke Mesjid Malaka. 

Alhamdulillah -segala puji hanya milik Allah- ketakutan kami tak terbukti, sebaliknya keteguhan kami ternyata membuahkan hasil. di ujung perjalanan kami melihat bangunan kubah mesjid. Ternyata memang itu mesjid yang kami cari. Posisinya memang di bibir selat, area depan mesjid dipenuhi bangunan entah ruko atau apartemen yang berjejer seragam sama tinggi dengan cat warna warni. Sepertinya tengah dilakukan pengembangan besar-besaran di kawasan tersebut, terlihat dari gambar besar yang menutupi proyek tersebut. 

front side

left side


Beristirahat di gazebo kecil di halaman mesjid sambil menikmati angin pantai yang semilir, ditemani sisa minuman dan makanan ringan dari perjalanan sebelumnya, membuat semua kelelahan menjadi hilang, tergantikan oleh rasa damai. Memang betul bahwasanya rumah Allah akan selalu menghadirkan kedamaian bagi sesiapa yang mencari. Tak cuma kedamaian, makanan pun Allah sediakan bagi kami yang musafir.. hehe... Alhamdulillah,, berkah hari jumat di Mesjid Malaka, kami kebagian jatah makan siang. Sebungkus bihun goreng plus telor ceplok menjadi penyambung hidup kami yang kelelahan dan kelaparan [lebay dot com] :D

Perjalanan melelahkan mencari mesjid Malaka, tak lantas membuat kami lupa akan kegembiraan yang menyapa lebih dulu ketika mengunjungi icon icon Situs Warisan Dunia-Malaka :


Christ Church Melaka

Kincir Air Malaka

Museum Maritim Malaka
dan terakhir adalah Jonker Night Market, di sepanjang Jonker Street-Malaka. Tak asing lagi, kalau soal pasar malam, pasti yang mendominasi adalah kaumnya Jet Lee, hehe...